bikintau Headline Animator

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 

Orang-orang Pilihan yang Tersembunyi


Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allâh Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya orang-orang pilihan, tersembunyi, taat, rambut mereka acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya.” 

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasûlullâh, contohkan pada kami salah satu dari mereka?” 

Beliau menjawab: “Itulah Uwais Al-Qaraniy.” 

Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah Uwais Al-Qaraniy?“ 

Beliau menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya luas, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya kemerah-merahan, selalu menundukkan dagunya hingga ke dada, pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah atas nama Allâh pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan kepada Uwais, “Berhenti, dan berikanlah syafaat!” Maka Allâh memberikan syafaat sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.” “Wahai Umar, wahai `Ali!” Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allâh akan mengampuni kalian berdua.”

Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, Umar Radhiallahu anhu berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: ”Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama Uwais?” 

Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu Uwais yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama Uwais, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan sesuatu yang paling hina untuk kami ajukan kehadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah di antara kami. Demi Allâh tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila, dan lebih kelaparan darinya”

Maka, menangislah Umar Radhiallahu anhu, lalu beliau berkata: Hal itu ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasûlullâh SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafaatnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” 

Maka Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: “Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” 

“Ya,” jawabnya. 

Beliau bertanya: ” Dimanakah tempatnya” 

Ia menjawab: “Di tanah Arafah.” 

Kemudian berangkatlah Umar dan Ali Radhiallahu anhu dengan cepat menungganggi kendaraannya menuju Arafah. Tiba-tiba mereka mendapatkannya dalam keadaan shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya disekitarnya. Keduanya mengikat keledai mereka, lalu mendatanginya, dan berkata: “Assalamualaika warrahmatullah wabarokatuh”

Uwais mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka. 

Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?”

Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum”

Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” 

Ia menjawab: “Abdullâh (hamba Allah)”

Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allâh, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” 

Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?” 

Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama Uwais Alqaraniy. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya”

Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua segera menghampirinya dan mengecupnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah Uwais Alqaraniy, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allâh mengampunimu”

Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengkhususkan istighfarku untuk diriku atau siapapun dari anak cucu Adam, tetapi doaku untuk mereka yang ada di daratan dan lautan, baik laki-laki maupun wanita yang beriman dan Islam. Wahai kalian berdua, Allâh telah membongkar dan memberitahukan keadaaanku pada kalian berdua, lalu siapakah kalian berdua?” 

Berkatalah `Ali Radhiallahu anhu: “Ini adalah Umar amir al-mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abu Thalib”

Lalu Uwais bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allâh bagimu wahai amir al-mu’minin, dan kepadamu pula wahai anak Abu Thalib, semoga Allâh membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan”

Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allâh membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu”

Lalu Umar ra berkata kepadanya : ”Tetaplah di tempatmu hingga aku memasuki kota Mekah dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku, ini adalah tempat pertemuanku denganmu”

Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai amir al-mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Apakah kau mengetahui apa yang akan aku perbuat dengan bekal dan baju darimu? Bukankah kau melihat dua lembar pakaianku yang terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya ! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai amir al-mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap hati yang memiliki rasa takut dan tunduk, maka takutlah semoga Allâh merahmatimu”

Ketika Umar mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” 

Kemudian Uwais berkata: “Wahai amir al-mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain”

Maka Umar berjalan ke arah Mekkah, sedangkan Uwais menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan menghadapkan dirinya beribadah hingga menemui Allâh.

Read More..

Bukan Jin Ifrit yang Memindahkan Singgasana Ratu Saba’


Jika kita sering diperdengarkan kisah tentang dua puluh lima nabi sejak kecil, tentu kita tidak akan asing dengan kisah tentang kerajaan Nabi Sulaiman. Kisah tentang kerajaan Nabi Sulaiman menjadi cerita yang menarik dan terus lestari dari generasi ke generasi. Al-Qur’an pun menceritakan dengan cukup detail, namun kita tidak sepenuhnya mampu memahami inti pesan yang Allah SAWT sampaikan lewat ayat-ayat itu. Tidak sedikit dari kita hanya menceritakan kembali apa yang pernah kita dengar dari orang tua atau kakek kita, tanpa pernah meneliti kembali bagian-bagian penting dari kisah itu, sehingga bisa melepaskan diri dari kesalahan yang mungkin diwariskan secara turun-temurun. 

Bagian yang cukup penting yang perlu kita teliti kembali adalah mengenai siapa yang berhasil memindahkan singgasana Ratu Saba’ ke dalam istana Nabi Sulaiman. Sebagian besar dari kita mungkin mendapatkan cerita bahwa yang memindahkan singgasana itu adalah jin Ifrit, karena dia dikenal sebagai jin yang cerdik dan kuat secara fisik. Akan tetapi, mari kita teliti kembali bagian-bagian dari ayat al-Qur’an yang menceritakan hal ini 

 (٣٩)قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي
(٤٠)أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ 
“Ifrit dari golongan jin berkata, ‘Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.’ Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab berkata, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya, Mahamulia,’”(QS. An-Naml: 39-40).

Ayat di atas jelas menyatakan, bahwa yang membawa singgasana itu ke dalam istana Nabi Sulaiman bukan jin Ifrit, karena dia kalah cepat dan kalah cerdik dari seorang hamba Allah yang memiliki ilmu dari kitab. Hamba Allah itu mampu membawa singgasana itu ke hadapan Nabi Sulaiman sebelum dia mengedipkan mata. Sedangkan Ifrit hanya mampu membawanya ke hadapan Nabi Sulaiman sebelum dia bangkit dari tempat duduknya.

Peristiwa ini memberikan pelajaran yang tetap mengukuhkan keunggulan manusia di atas makhluk Allah yang lain, bahkan jin sekalipun. Hamba Allah yang berhasil membawa singgasana itu digambarkan dengan kata alladzii ‘indahuu ‘ilmun minal kitaab (yang mempunyai ilmu dari kitab).

Silahkan mengamati kata-kata itu dengan baik dan cobalah cerna, apa pesan yang ingin Allah SWT sampaikan kepada kita lewat peristiwa itu. Hamba Allah itu mampu menempuh jarak antara negeri Saba’ yang berada di sekitar wilayah Yaman dan kerajaan Nabi Sulaiman yang berada di wilayah Yarussalem (sekitar 2.022 km) dengan membawa singgasana besar dengan berat ratusan kilogram, hanya dalam waktu kurang dari satu kediapan mata.

Apakah ini mukjizat ataukah karomah atau mungkin sebagai bagian dari kemajuan teknologi transportasi di zaman Nabi Sulaiman? Bila peristiwa itu disebut sebagai mukjizat atau karomah, redaksi kata dalam ayat itu sangat jelas menyatakan bahwa hamba Allah itu memiliki ilmu yang digali dari kitab (alladzii indahuu ilmun minal kitaab). Ilmu yang membuat dia mampu melakukannya. Sehingga Nabi Sulaiman sangat bangga dengan apa yang dilakukan hamba tersebut dan berucap, ”Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya), dan siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”

Apakah kemajuan teknologi saat ini sudah ada yang mampu menggabungkan kekuatan dan kecepatan seperti itu dalam satu jenis alat transportasi? Allah SWT memberikan stimulasi untuk kita mau mempelajari dan meneliti hanya dalam beberapa ayat al-Qur’an. Menyingkap suatu disiplin ilmu yang belum terungkap agar bisa memberi lebih banyak manfaat bagi kehidupan.

Pada setiap ayat tersebut pula, Allah SWT selalu menyertakan pemberitahuan bahwa tidak ada sesuatu pun di jagat raya ini yang berada di luar kendali-Nya; dan kepada Allah SWT pula kita akan kembali dan mempertanggungjawabkan apa yang pernah kita perbuat selama hidup.

 أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ 
 “Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagi kalian pelindung dan penolong selain Allah SWT,”(QS. Al-Baqarah: 107).

Sumber : Kerajaan Al-Qur’an/Hudzaifah Ismail/Penerbit: Penerbit Almahira/2012
Read More..

Sulaiman, Sembelih Kuda Dapatkan Angin sebagai Kendaraannya


Tentu anda mengenal Nabi Sulaiman AS bukan? Ya, beliau adalah satu-satunya nabi yang memiliki kekayaan sangat banyak. Bahkan, beliau bukan hanya menguasai manusia sebagai raja, akan tetapi jin dan hewan pun berada di pawah perintahnya. Sungguh kedudukan yang sangat luar biasa, yang tidak dapat tersaingi oleh orang terkaya di dunia saat ini sekali pun. Namun, bukan hanya kekayaan dan kedudukan tertinggi Nabi Sulaiman yang menjadi kebanggan paling utama. Yakni, beliau memiliki tingkat keimanan yang begitu tinggi. Rasa cinta dan sayang kepada Allah SWT sebagai Tuhannya sangatlah besar. Bahkan, ia rela menyembelih kuda-kudanya yang begitu kuat dan gagah, hanya karena takut kepada atas murka Allah kepadanya. 

Sebagaimana Allah berfirman di dalam kitab suci Al-Quran, “Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Rabbnya. (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di wkatu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore , maka ia berkata kepada, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu, ia potong kaki dan leher (kuda-kuda itu),” (QS. Shad: 30-33). 

Allah SWT menyebutkan bahwa Dia menganugerahkan kepada Dawud (putra bernama) Sulaiman AS. Lalu Allah menyanjung Sulaiman dan (menyebutkan) bahwa dia banyak kembali kepada Allah, lalu Allah menyebutkan perkaranya tentang kuda. 

Berikut ini kami bawakan kisahnya untuk Anda. Nabi Sulaiman menyukai kida untuk digunakan berjihad di jalan Allah dan beliau memiliki kuda-kuda yang kuat, cepat dan memiliki sayap yang jumlahnya lebih dari 20 ribu. 

Ketika beliau memeriksa dan mengatur kuda-kuda tersebut, beliau ketinggalan shalat Ashar karena lupa bukan disengaja. Saat beliau menyadari bahwa beliau ketinggalan melakukan shalat karena kuda-kuda tersebut beliau pun bersumpah, “Tidak, demi Allah, janganlah kalian (kuda-kudaku) melalaikanku dari menyembah Tuhanku.” Lalu beliau memerintahkan agar kuda-kuda itu disembelih. Maka, beliau menebas leher-leher dan urat-urat nadi kuda-kuda tersebut dengan pedang. Ketika Allah mengetahui hamba-Nya, Sulaiman, menyembelih kuda-kuda tersebut karena-Nya, karena takut dari siksa-Nya karena mencintai dan mengagungkan-Nya, disebabkan beliau sibuk dengan kuda-kuda tersebut sehingga habis waktu shalat maka Allah SWT memberi kepada beliau dengan sesuatu yang lebih baik dari kuda-kuda tersebut. Yakni, angin yang bisa berhembus dengan perintahnya, sehingga akan menjadi subur daerah yang dilewatinya. 

Perjalannya sama dengan perjalanan sebulan dan kembalinya sama dengan perjalanan sebulan. Dan tentu ini lebih cepat dan lebih baik daripada kuda. Benarlah Rasulullah SAW, manakala beliau bersabda, “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah SWT, kecuali Allah SWT akan memberimu (sesuatu) yang lebih baik daripadanya,” (Diriwatkan oleh Ahmad dan Al-Baihaqi, dan ia adalah hadis shahih). 

Sumber : Kisah-kisah Nyata/Karya: Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi/Penerbit: Darul Haq, Jakarta
Read More..

Kisah Tabayyun Burung Hud-Hud dan Nabi Sulaiman



Dalam Al-Quran, di surah An-Naml ayat ke-22, dikisahkan bahwa burung Hud-hud menyaksikan sebuah kaum penyembah matahari di bumi Yaman yang dahulu disebut negeri Saba’ hal itu kemudian disampaikan kepada Nabi Sulaiman AS: “Aku datang kepadamu ( Sulaiman) dengan membawa kabar yang pasti dari negeri Saba’…” 

Burung Hud-hud tidak mengatakan: “Aku dengar begini…” atau berkata: “Kata orang begini..” 

Namun dia membawa berita yang langsung disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri. 

Nabi Sulaiman tidak serta merta meyakini kabar tersebut, justru beliau berkata : “Kita akan melihat, apakah kamu termasuk dari golongan yang terpercaya atau golongan pendusta” 

Beginilah seharusnya cara seorang muslim dalam menginformasikan atau mengkritisi sebuah informasi. Tidak menelan mentah-mentah semua kabar yang berserakakan di media, tengah-tengah publik, ataupun lainnya, namun diuji dan dilihat kebenarannya terlebih dahulu. 

”…maka selidikilah kebenaran (kabarnya) agar kamu tidak menimpakan suatu kaum dengan perkara yang tidak mereka inginkan karena kecerobohanmu..”( QS. Al-Hujurat: 6). 

“Cukuplah suatu dosa bagi seseorang yang gemar menceritakan semua kabar yang didengarnya,” Muhammad SAW. 

Read More..

3 Syarat dari Semut untuk Nabi Sulaiman



Pada suatu hari, ketika Nabi Sulaiman a.s. tengah berbaring, ada seekor semut berjalan di dadanya. Kemudian ia ammbil semut itu dan dilemparnya jauh. Dengan marah, semut itu berkata, “Wahai Nabi Allah, mengapa engkau lemparkan aku dengan begitu keras? Apakah kamu lupa bahwa pada hari kiamat nanti kamu akan berdiri di hadapan Pencipta segala kerajaan, yaitu Tuhannya langit dan bumi, yang Maha Adil, yang mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya?” 

mendengar kata-kata semut itu, Nabi Sulaiman a.s. pingsan. Setelah siuman ia memandangi semut tersebut dan berkata, “Maafkanlah sikap zalimku tadi terhadapmu.” 

Si semut menjawab, “Aku akan memaafkan perbuatanmu tadi degan tiga syarat.” 

Mendengar perkataan tersebut, Nabi Sulaiman berkata, “Sebutkanlah ketiga persyaratanmu tersebut!” 

“Syarat yang pertama adalah jangan kamu tolak orang yang meminta kepadamu. Sesungguhnya orang yang meminta kepadamu adalah orang yang sedang meminta karunia Allah, maka jangan sampai kamu cegah karunia Allah kepaada makhluk-Nya,” kata semut. 

“Kemudian yang kedua adalah jangan tertawa berlebih-lebihan sehingga kamu terlena dengan dunia dan menyaangka bahwa kamu telah menjalani semua tugasmu dengan baik di dunia ini. Sehingga hatimu menjadi keras, sedangkan kamu telah dimuliakan oleh Allah dengan diberikan kerajaan ini,” lanjut semut. 

“Lalu apa syaratmu yang terakhir?” Tanya Nabi Sulaiman a.s. 

“Sedangkan syaratku yang ketiga adalah jangan sampai kedudukanmu menghalangimu untuk menolong orang yang meminta pertolonganmu,” jawab semut. 

 Mendengar pernyataan semut itu, Nabi Sulaiman a.s. berkata, “Insya Allah semua persyaratanmu itu akan aku jalani.” 

“Jika begitu aku telah memaafkanmu,” kata semut. 

Sumber : 40 Kisah Pengantar Anak Tidur/ Najwa Husein Abdul Aziz/Gema Insani
Read More..
 
bikintau