bikintau Headline Animator

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 

Ketika Rasulullah Mendengar Terompah Bilal Di Surga

surga Ketika Rasulullah Mendengar Terompah Bilal Di Surga

Oleh, Syekh DR. Aidh al- Qarni
Hamba yang paling dekat kepada Allah Yang Maha Esa, adalah orang yang paling dekat kepada ketaatan dan paling jauh dari kemaksiatan.
Suatau ketika, segolongan sahabat berdiri didepan pintu Amirul Mukminin Umar Bin Khattab ra, meminta izin untuk masuk pada hari pertemuan saat muktamar diadakan setiap tahunnya oleh Amirul Mukminin. Mereka hendak masuk menemuinya.
Siapakah golongan sahabat itu? Apa kriteria sahabat yang diizinkan masuk oleh Amirul Mukminin? Dan apa sajakah keahlian mereka yang menyebabkan mereka dapat masuk menemui Amirul Mukminin Umar Bin Khattab?
Mereka yang sudah berada di depan pintu itu, Abu Sufyan Bin Harb, mantan panglima perang Qurays, yang sudah masuk Islam, dan pernah memerangi Rasul SAW, dan kemudian mendapatkan hidayah. Ada Al-Absyamiy dari kalangan Bani Abdu Syams dari kalangan keluarga Arab yang paling tinggi nasabnya. Lalu, Suhail Bin Amr juru bicara Arab, dan yang lainnya ada pula Al-Harits Bin Hisyam. Mereka berdiri. Sedangkan disamping mereka ada Bilal Bin Rabah mantan budak beliau berasal dari Abesinia, Shuhaib Ar-Rumi dari bangsa Romawi, Salman al-Farisi dari negeri persia, dan Abdullah bin Mas’ud mantan penggembala ternak, yang menjadi sahabat yang mulia dengna ilmunya.
Mereka mengerumuni pintu khalifah seraya meminta izin kepada Umar ra untuk masuk menemuinya. Orang yang diperbolehkan masuk adalah orang yang paling dekat kepada Allah. Kemudian sepuluh sahabat yang mendapatkan berita gembira dijamin masuk surga, lalu masuklah ahlul Badr sesuai dengan kedudukan mereka, kemudian barulah orang lainnya yang dipilih.
Kemudian pengawal pribadi Umar bertanya: “Siapakah yang ada di depan pintu?”, ucapnya. Abu Sufyan menjawab, “Sampaikanlah kepad Amirul Mukminin bahwa aku ada disini”, cetusnya.
Selanjutnya pengawal itu bertanya,”Dan siapakah kalian?”. Mereka pun menyebutkan namanya masing-masing, dan kemudian pengawal kembali kepada Khalifah Umar Bin Khattab dan memberitahukan hal itu kepadanya.
Umar berkata, “Berilah izin kepada Bilal Bin Rabah untuk masuk!”, ujar Umar. Dan, Billal pun mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan pertemuan yang sudah disiapkan itu. “Suruh Shuhaib masuk”, ucap Umar. Tak lama Umar berkata, “Suruh Salman masuk”. Setelah itu, Umar berkata, “Ibnu Mas’ud masuk!”.
Sesudah sahabat masuk semuanya, Abu Sufyan yang hidungnya terlihat mengembang, karena marah dan merasa mendongkol yang sangat, berkata, “Demi Allah yang tiada Tuhan berhak disembah selain Dia, aku tidak mengira bila Umar membuatku lama menanti sesudah mereka masuk terlebih dahulu sebelumku”.
Mengapa hal itu terjadi? Sesungguhnya Abu Sufyan menimbang segala sesuatu dengan parameter jahiliyah. Ternyata sisa-sisa jahiliyah masih membekas dalam dirinya.
Sangat berbeda dengan Umar ra, maka parameter yang digunakannya berbeda dengan Abu Sufyan. Sesungguhnya Umar menilai segala sesuatu berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka saat itu juga Suhail Bin Amr teman dekatnya yang cukup bijak mengatakan kepadanya, “Wahai Abu Sufyan demi Allah, aku tidak peduli dengan pintu Umar dan izinnya. Akan tetapi, aku khawatir bila kita dipanggil pada hari Kiamat nanti, maka mereka masuk surga sedangkan kita ditinggalkan, karena sesungguhnya mereka dan kita diseru, ternyata mereka lah yang menyambutnya, sedangkan kita mengingkari. Oleh karena itu, pantaslah bila mereka didahulukan, sedangkan kita dibelakangkan”.
Perhatikan bagaimana Umar ra menilai martabat manusia hanya berdasarkan paramater taqwa kepada Allah Ta’ala. Dalam pemerintahan Umar ra masih belum puas, kecuali bila Bilal harus diprioritaskan atas mereka semuanya, karena sesungguhnya Bilal adalah orang yang lebih dahulu msuk Islam. Apakah kaum muslimin sudah lupa kalimat : “Ahad! Ahad!”, sedang tubuh Bilal dijemur diatas padang pasir yang terik panasnya mendidih, dipukuli, diseret dengan kuda, dan didera dengan berbagai siksaan, sementara yang menyiksanya berkata, “Tinggalkanlah Tuhan sembahanmu!”, sedang Bilal hanya mengatakan, “Ahad! Ahad!”?.
Oleh karena itu, Bilal didahulukan karena dia telah mengenal jalan menuju kepada Allah Azza Wa Jalla. Rasul SAW pernah memanggil Bilal, lalu bersabda :
“Hai Bilal, mengapa engkau mendahuluiku masuk surga? Sesungguhnya ketika aku masuk surga tadi malam (malam Isra’), aku mendengar suara terompahmu dihadapanmu”.
Bilal menjawab : “Wahai Rasulullah, tidaklah sekali-kali aku menyerukan adzan, melainkan terlebih dahulu aku melakukan shalat dua rakaat dan tidak sekali-kali aku mengalami hadast, melainkan aku berwudhu. sesudahnya, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat sebagai kewajibanku kepada Allah”. Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, bersabda : “Karena kedua-duanya”. Dan, Bilal tidak menjawab : “Karena aku punya harta, anak, dan kedudukan atau pangkat”.
Demikian itu, karena kedudukannya adalah taqwa kepada Allah, pangkatnya adalah kalimat “la ilaaha illalloh”, dan bekalnya adalah kalimat “la haula wa laa quwwata illaa billaah” (tiada daya untuk menghindar dari kedurhakaan) dan tiada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali dengan pertolongan Allah, dan kendaraannya adalah, “Aku beriman kepada Allah”. Wallahu’alam.

Read More..

Adakah Jagat Lain


Oleh: Dr. Husni Hamdan Hamamah
Allah berfirman, ‘Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (al-Jatsiyah: 36-37)
Para ahli tafsir memiliki banyak pendapat tentang kata ‘alamin yang menunjukkan luasnya pemahaman mereka. Jagat kita (universe) yang kita lihat sangat luas itu merupakan tingkatan yang jarak setengah diameternya adalah 30 miliar perjalanan cahaya. Dengan arti bahwa seandainya kita memulai perjalanan dari titik terjauh yang satu dengan kecepatan 300 ribu km/detik, dan itu adalah kecepatan kosmik terbesar, maka kita membutuhkan 30 milyar tahun untuk sampai ke titik terjauh di sisi lain dari alam semesta ini.
Para ahli astrofisika bertanya-tanya, adakah dunia selain dunia yang kita lihat ini, dan bagaimana dimensi-dimensinya jika ia ada. Kita memang tidak melihatnya, tetapi barangkali ia ada karena kita tidak melihat setiap yang ada. Allah berfirman, ‘Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.’ (al-Haqqah: 38-40)
Para ahli astrofisika menyatakan bahwa dunia kita barangkali hanya seperti balon yang mengapung di angkasa yang sempurna dimensi-dimensinya.
Apa kata ahli tafsir?
Al-Qurthubi: Para ahli takwil berbeda pendapat mengenai kata ‘alamin. Menurut Qatadah, kata ‘alamin adalah jamak dari kata ‘alam, yaitu setiap maujud selain Allah. Kata ini tidak memiliki arti tunggal, sama seperti kata rahthun (kelompok) dan qaum (golongan). Husain bin Fadhal mengatakan penghuni setiap zaman itu disebut ‘alam. Dan lain-lain.
Wahb bin Munabbih berkata, ‘Sesungguhnya Allah memiliki delapan belas ribu jagat, dan dunia hanyalah satu jagat dari sekian banyak jagat tersebut.’
Abu Sa‘id al-Khudri berkata, ‘Sesungguhnya Allah memiliki empat puluh ribu jagat, dan dunia dari timur hingga barat adalah satu jagat.’
Muqatil berkata, ‘Jumlah jagat adalah delapan puluh ribu. Empat puluh ribu jagat di antaranya ada di dalam air, dan empat puluh ribu di antaranya ada di darat.’
Menurut al-Qurthubi, pendapat yang pertama adalah yang paling mendekati kebenaran, karena ia mencakup setiap makhluk dan eksisten. Dalilnya adalah firman Allah, ‘Firaun bertanya, ‘Siapa Tuhan semesta jagat itu?’ Musa menjawab, ‘Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya.’’ (asy-Syu’ara: 23-24) Kata ‘alamin di dalam al-Qur’an sebanyak 60 kali, dan salah satunya mengisyaratkan langit dan bumi.
Di kalangan para ilmuwan hari ini muncul banyak pertanyaan yang membingungkan seputar keberadaan jagat lain di tengah ciptaan yang mahabesar ini. Inti pertanyaan tersebut adalah: apakah ada jagat-alam lain dengan hukum yang berbeda dari hukum yang mengatur jagat kita, dimana cahanya melesat lebih cepat, dan dimana daya gravitasi lebih kuat daripada yang kita kenal?
Banyak ilmuwan meyakini keberadaan jagat lain selain jagat kita. Di antara mereka adalah Max Tugmart, John G. Cramer, Susan Wealze and David Hoytawes. Salah satu model yang diprediksi keberadaannya oleh para ilmuwan adalah kembaran galaksi kita, yang jaraknya dari kita adalah 1028 meter dari kita.
Max Tugmart berpandangan bahwa jagat paralel (parallel universe) bukan sekedar fiksi ilmiah. Bahkan, dunia lain itu tidak lain adalah implementasi langsung dari kajian-kajian kosmologi.
Malkuth antara al-Qur’an dan Sain:
Sangat mengherankan bahwa kata malakut yang disebut beberapa kali di dalam al-Qur’an itu digunakan para ilmuan. Mari kita cermati apa yang ditulus John G. Cramer,
‘Gene Wolf menduga bahwa yang disebut dunia ini bukan merupakan satu-satunya jagat, melainkan seperti satu dunia di luar perjalanan waktu. Kita akan membutuhkan kata lain, dan saya mengusulkan kata malkut yang dalam bahasa Kabalist yang berarti jagat. Tetapi, menurutku kata tersebut bukan kata baru, dan sepertinya kasar.’
Seandainya Gene Wolf tahu bahwa kata malkut atau malakut itu adalah kata asli Arab dan disebut di dalam al-Qur’an al-Karim, maka ia pasti tidak menyebutnya ‘kasar’. Allah berfirman, ‘Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan (malakut) langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada Al Qur’an itu?’ (al-A’raf: 185)
Suzanne Willis menyebutkan bahwa jagat-jagat yang paralel itu dimungkinkan terpisah sesuai teori-teori yang terpisah dengan dua jalan. Jalan pertama pada fase huge inflation of the universe (pemekaran besar dunia), dimana satu bagiannya yang kecil berkembang menjadi besar, dan sesudah itu jadilah dunia yang kita kenal saat ini. Dan dimungkinkan bagian-bagian yang lain menempuh jalan yang sama, berkembang, dan membentuk dunia-dunia lain. Sedangkan jalan kedua dan sesuai teori kuantum, dunia-dunia paralel itu berjalinan akibat Quantum Event.
Max Tugmark meneliti teori-teori fisika yang berkaitan dengan jagat-jagat paralel, yang tersusun dalam empat tingkatan jagat, yang memukinkan adanya variasi yang berkelanjutan.
Tingkatan pertama adalah jagat-jagat raya yang tidak diatur dengan fisika dan konstanitas fisika jagat kita, tetapi bisa jadi perkembangan Artikelnya berbeda.
Tingkatan kedua adalah jagat-jagat yang konstanitas-kontanitas fisikanya dan dimensi-dimensi ruang dan waktunya berbeda dari yang ada di jagat kita.
Tingkatan ketiga, setiap kuantum dimungkinkan memunculkan banyak salinan.
Tingkatan keempat memiliki hukum-hukum fisika yang berbeda.

Read More..

Haman sebagaimana Disebutkan dalam Al-Quran

mesir1 490x326 Haman sebagaimana Disebutkan dalam Al Quran

Oleh: Abduldaem Al-Kaheel
Segala puji bagi Allah yang berfirman di dalam Al-Qur’an:
“Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (QS Al-Qashash [28]: 38)
Firaun yang disebutkan dalam ayat ini berbicara dengan para bangsawan bangsanya bahwa ia tidak mengenal tuhan untuk mereka kecuali dirinya sendiri. Firaun memanggil Haman untuk memintanya membangunkan untuknya dari tanah yang dibakar, atau batu bata, bangunan yang sangat tinggi supaya ia bisa melihat Tuhannya Musa.
Ayat ini menunjuk kepada banyak mujizat seperti:
  1. Firaun memosisikan dirinya sebagai tuhan: seperti dalam perkataannya, “aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” Riset arkeologi menemukan peradaban Mesir kuno yang memastikan bahwa Firaun sejak dinasti keempat mengklaim bahwa mereka adalah anak-anak Dewa Raa, dewa matahari yang disembah oleh orang Mesir kuno. Tidak hanya itu, nama Raa berada di antara para keluarga fir’aun, seperti Raa Nip, yang berarti dewa emas. Kata ilmuwan arkeologi, yang bukti paling jelas bahwa Firaun menganggap diri mereka sebagai tuhan adalah adanya lagu untuk matahari yang telah diabadikan dalam teks-teks di dalam piramida, yang mengidentifikasi Firaun sebagai dewa matahari. Lagu ini berbicara ke rakyat Mesir, termasuk daftar panjang yang menakjubkan tentang manfaat yang dapat dinikmati rakyat Mesir di bawah perlindungan dan penguasa dewa matahari, seperti yang diberikan Firaun kepada rakyat Mesir. Ia harus menerima hadiah yang sama dari rakyat Mesir. Itu sebabnya seluruh lagu diulang lagi dengan menempatkan nama firaun meskipun yang tercatat dalam lagu asli adalah nama “Raa atau Horase”.
  2. Keajaiban kedua adalah penggunaan batu bata oleh Fir’aun dalam membangun menara: Firaun meminta Haman untuk membangun istana yang tinggi atau menara dari tanah liat bakar yang merupakan batu bata. Hal ini dianggap sebagai mukjizat sejarah Alquran, karena telah menjadi pemikiran umum bahwa batu bata menurut para sejarahwan tidak muncul di Mesir kuno, kecuali setelah era Roma, dan ini menurut pendapat membuat para sejarahwan bertentangan dengan ayat yang menyatakan permintaan Firaun kepada Haman bahwa dia harus membangun sebuah istana yang tinggi dari tanah liat bakar atau batu bata. Pendapat para sejarahwan itu terus bertahan hingga Patry, seorang ilmuwan arkeologi menemukan sejumlah batu bata yang digunakan dalam membangun entombment dan juga digunakan dalam membangun beberapa bangunan dasar yang merujuk kepada masa Rammsis II , Mrinbtah dan Sity II dari dinasti keluarga kesembilan belas (1308-1184 SM). Dan ia menemukan batu bata itu dalam sebuah situs arkeologi yang tidak jauh dari Be Rammsis atau Kantir, Ibukota Fir’aun di timur Delta.
  3. Mukjizat ketiga menunjuk ke salah satu asisten Firaun dengan namanya Haman. Profesor Morris Bokay menyatakan sebagai berikut, “Al-Qur’an menyebutkan seseorang bernama Haman yang merupakan salah satu pembantu Firaun. Firaun memintanya untuk membangun bangunan yang tinggi atau sebuah istana tinggi memungkinkan Firaun—ketika ia berkata dengan sinis kepada Musa—untuk mencapai Allah dan melihat-Nya. Dan saya ingin tahu apakah nama itu tidak terhubung ke sebuah nama hiroglif, sehingga ia dapat disimpan sebagai salah satu dokumen era tersebut, sehingga kemudian “Nakhara” yang berarti “menulis surat suatu bahasa dalam surat bahasa lain” akan terjadi. Dan saya tidak akan puas dengan jawaban kecuali yang datang dari seorang ahli dalam bahasa hieroglif dan juga mengetahui bahasa Arab secara baik. Jadi saya bertanya kepada seorang ilmuwan di bidang Egyptologue dari perancis tentang kedua hal tersebut. Saya menulis nama Haman, tapi saya tidak mengatakan apa-apa kepadanya tentang realitas teks yang bersangkutan. Saya hanya mengatakan kepadanya bahwa kata ini terkait dengan abad ketujuh sebelum masehi. Jawabannya yang pertama adalah bahwa nama asli itu tidak mungkin karena tidak mungkin untuk menemukan teks yang mencakup nama nama seorang pria terkemuka dalam bahasa hieroglif dan juga memiliki sajak hiroglif yang terkait dengan abad ketujuh sebelum masehi. Nama ini tidak dikenal sampai sekarang. Itu karena bahasa hieroglif telah lama dilupakan. Di sisi lain, ia menyarankan saya untuk memeriksa kamus nama-nama pribadi kerajaan baru dan untuk mencari nama ini, dengan memberi isyarat kepada saya tentang bahasa hieroglifnya jika benar-benar ditemukan. Dan ketika saya mencari, saya menemukan tertulis dalam kamus ini persis seperti yang saya harapkan. Sungguh suatu kejutan! Saya tidak hanya menemukan namanya, tetapi juga menemukan pekerjaannya, seperti yang ditulis dalam bahasa Jerman “kepala pekerja galian”. Tetapi tanpa tanda apapun tentang masanya, kecuali teks yang berkaitan dengan kerajaan yang berdiri di zaman Nabi Musa, dan pekerjaan yang ditulis menunjukkan bahwa ia bertanggungjawab di bidang konstruksi. Jadi, apa pendapat kita tentang perbandingan antara perintah Firaun kepada Haman sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, dengan apa yang tertulis dalam buku ini.”

Mahabenar Allah dalam firman-Nya: “Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS Al-Qashash [28]: 38). [khalifah 28]

Read More..

Adanya Binatang yang Bisa Bicara di Akhir Zaman

quran Adanya Binatang yang Bisa Bicara di Akhir Zaman

Binatang pada umumnya berbeda dengan manusia. Salah satu perbedaannya adalah dalam hal berbicara. Manusia diberi anugerah agar bisa berbicara. Sedangkan binatang tidak bisa berbicara. Namun, apakah benar bahwa pada akhir zaman kelak binatang ada yang bisa bicara?
Termasuk dari tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia.
Hal ini sebagaimana firman Allah:
وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ
Artinya:
“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami,” (QS. An-Naml ayat 82).
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu,” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)].
Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Zur’ah berkata: Ada tiga orang kaum muslimin yang duduk di sisi Marwan bin al-Hakam, mereka mendengarnya sementara dia menyinggung tanda-tanda kiamat menyatakan bahwa Dajjal adalah tanda pertama yang muncul. Maka Abdullah bin Amru berkata, “Marwan tidak mengucapkan apa-apa, saya telah menghafal suatu hadis dari Rasulullah SAW yang tidak aku lupakan sesudah aku mendengarnya dari beliau, beliau bersabda, ‘Tanda yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat dan munculnya binatang bumi kepada manusia di waktu dhuha. Apa pun dari keduanya mendahului yang lain maka yang lain menyusul tidak lama kemudian’.”
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Bersegeralah berbuat baik sebelum datangnya enam perkara: Dajjal, dukhan, binatang bumi, terbitnya matahari dari barat, kiamat dan kematian salah seorang dari kalian,” (HR. Muslim).
Dalam Hadits tentang akan keluarnya Ad Daabbah dijelaskan oleh Rasulullah seperti diriwayatkan oleh Shahabat Abi Umamah Al Baahily ra., dimana hadis ini riwayatnya tersambung pada Rasulullah SAW atau Hadits Marfuu’an (مرفوعا), diriwayatkan oleh Imaam Ahmad no: 22362 dan menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth sanadnya shahih, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
تخرج الدابة فتسم الناس على خراطيمهم ثم يغمرون فيكم حتى يشترى الرجل البعير فيقول ممن اشتريته فيقول اشتريته من أحد المخطمين
“Kemudian keluar Ad Daabbah lalu menulis pada muka (hidung dan dahi orang kaafir) dan ia akan menyebar ke seluruh muka bumi, sehingga apabila ada seorang laki-laki membeli unta kemudian ditanyakan kepada orang itu dari siapa ia membeli unta tersebut, maka ia akan mengatakan : “Dari salah seorang yang bertanda di mukanya.”
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad berkata, “Ayat al-Qur’an secara jelas mengatakan dengan bahasa Arab bahwa ia adalah “دابة ”, dan artinya jelas dan dikenal dalam bahasa Arab, tidak diperlukan ta’wil. Hadits telah menjelaskan perbuatannya. Dan banyak sekali hadis-hadis baik yang shahih atau lainnya yang menyatakan datangnya tanda kiamat ini (binatang bumi) dan bahwa ia keluar di akhir zaman. 

Read More..

Ternyata, Madu sebagai Obat sudah Tercantum dalam Al-Quran

madu1 490x326 Ternyata, Madu sebagai Obat sudah Tercantum dalam Al Quran

Dalam Al-Quran terdapat beberapa hewan yang namanya dicantumkan sebagai nama surah. Sebut saja Semut (An-Naml), Gajah (Al-Fiil), Laba-Laba (Al-Ankabut), atau Lebah (An-Nahl). Tentu saja, tidak semata-mata Allah SWT. mencantumkan nama hewan tersebut sebagai nama surah dalam Al-Quran apabila hewan tersebut tidak memiliki kelebihan ataupun hikmah yang bisa dipetik. Sebagai contoh adalah lebah.
Banyak orang yang belum memahami Al-Quran mungkin akan bertanya-tanya mengapa hewan kecil bersayap yang suka menyengat ini dimasukkan sebagai nama surah? Namun, pertanyaan tersebut akan sirna dengan sendirinya dan akan segera memperoleh jawaban apabila membaca salah satu ayat dalam surah An-Nahl.
Dalam ayat-68-69 surah An-Nahl, Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia….”(QS. An-Nahl [16]: 68-69)
Ayat tersebut secara jelas menggambarkan bahwa kepantasan lebah menjadi salah satu nama surah dalam Al-Quran itu disebabkan manfaat yang bisa diperoleh dari lebah tersebut, yakni berupa madu yang dapat dijadikan sebagai obat. Pada awalnya mungkin banyak orang yang tidak yakin bahwa madu bisa menjadi obat. Namun, dalam perkembangannya kemudian, para ahli kedokteran telah membuktikan bahwa madu memang bisa dijadikan obat. Adapun beberapa khasiat madu yang dihasilkan lebah adalah sebagai berikut:
Madu untuk Sumber Energi
Pada masa lalu, para atlet Romawi dan Yunani kuno meminum madu sebelum dan sesudah bertanding sebagai obat untuk stamina dan pemulih energi karena madu mengandung gula yang cepat diserap oleh sistem pencernaan. Dengan kata lain, madu adalah sumber energi instan
Madu Seefektif Glukosa
Hasil riset yang dikeluarkan sebuah jurnal kesehatan menyebutkan kadarglycemic index (GI ukuran untuk mengukur dampak negatif makanan dalam gula darah) yang rendah pada madu memperlambat penyerapan gula dalam darah sehingga lebih menyehatkan sistem pencernaan dan menjamin ketersediaan karbohidrat selama berolahraga. Sementara itu, Laboratorium Nutrisi di Universitas Mempish menyatakan bahwa madu seefektif glukosa pengganti karbohidrat selama pemanasan.
Madu untuk Penyembuh Luka
Dalam dunia pengobatan masyarakat Yunani dan Romawi memelopori penggunaan madu untuk mengobati hidung tersumbat. Adapun bangsa Mesir kuno menjadi pelopor pemanfaatan madu untuk mengobati luka. Mereka membuat salep dari madu untuk mengobati luka bakar dan luka akibat tusukan benda tajam.
Madu sebagai Antibiotik
Setelah ribuan tahun digunakan, khasiat madu sebagai obat luka terungkap secara ilmiah. Madu bekerja sebagai antibiotik alami yang sanggup mengalahkan bakteri mematikan. Bahkan, madu mampu mengeringkan bakteri sehingga bakteri sulit tumbuh.
Madu untuk Membunuh Kuman
Kandungan asam amino bebas dalam madu mampu membantu penyembuhan penyakit. Madu mengandung zat antibiotik yang berguna untuk mengalahkan kuman patogen penyebab infeksi.
Madu untuk Terapi
Madu termasuk dalam 500 resep obat dari 900 resep yang diketahui. Pengobatan modern yang mengacu pada terapi kuno penggunaan madu dari Mesir puas dengan hasil madu yang digunakan untuk terapi.
Madu untuk Mengobati Borok
Uji coba terhadap seorang pasien berusia 79 tahun yang menderita diabetes berhasil menyembuhkan borok pada jari kaki. Sang pasien bahkan tidak jadi diamputasi berkat terapi madu tersebut
Madu untuk Antioksidan
Riset di Universitas Purdue itu menyimpulkan, konsumsi suplemen kalsium bersama madu mampu meningkatkan penyerapan kalsium oleh tubuh.
Madu untuk Awet Muda
Bagi keluarga Kerajaan Inggris, sarapan madu adalah kebiasaan. Setiap hari, mereka mengoleskan madu berkualitas tinggi pada roti. Madu-lah yang menyebabkan kesehatan keluarga Kerajaan Inggris terjaga dengan baik sehingga berumur panjang dan awet muda.
Demikianlah untuk kesekian kalinya Al-Quran memberikan bukti keluarbiasaannya. Sebagaimana bunyi kalimat terakhir ayat yang dikutip di atas “… Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan,” sudah selayaknya kita memikirkannya. Wallahu a’lam.

Read More..

Misteri Tafsir Mimpi

tafsir mimpi Misteri Tafsir Mimpi

“Mimpi itu ada tiga : mimpi yang baik adalah khabar gembira dari Allah, mimpi yang menyedihkan dari Syetan, dan mimpi seseorang yang menceritakan hanya darinya,”  (HR. Muslim dari Abi Hurairoh ; Maktabah ;2263).
Mimpi, orang biasa menyebutnya bunga tidur. Adakalanya  berisi kejadian yang bercampur aduk, kalut, kusut dan tidak tentu ujung pangkalnya.
Namun saat ini masih banyak sekali orang yang mencari-cari ta’wil atau arti dari mimpi yang dialami, bahkan tidak banyak yang terjatuh ke jurang Ke-Syirikan, dimana orang tersebut mempercai ucapan atau tafsiran dari seseorang yang tidak sama sekali mengetahui ilmu ta’wil ini.
Lalu bagaimana mimpi menurut islam? Sebab tidak ada suatu ilmu pun yang kadar kepastiannya melebihi ilmu islam, ilmu yang berdasarkan kepada firmah Allah yang terdapat di Al-qur’an.
Yang perlu kita yakini saat ini adalah bahwa mimpi itu ada dua macam, mimpi baik yang datangnya dari Allah dan mimpi buruk yang datangnya dari syaitan, tidak perlu kita mencari-cari arti mimpi kita, karena kebanyakan jawaban dari penta’wil mimpi saat ini adalah salah, apalagi bersumber dari sesuatu yang salah seperti ramalan china, ramalan kejawen, bahkan berasal dari cerita orang dulu yang tidak jelas sumbernya.
Pada masa Kota Makkah dikuasai Musyrikin Quraisy, Rasulallah SAW pernah bermimpi bahwa beliau pergi ke kota itu bersama kaum muslimin untuk melakukan umroh, thowaf, sa’i dan bercukur, kemudian ternyata mimpi tu menjadi kenyataan beliau dan umat islam dapat masuk kota Makkah seperti dalam mimpinya.
Ada pula yang merupakan kembang atau rumusan seperti yang dialami Nabi Yusuf AS, beliau bermimpi ketia belum dewasa melihat sebelas bintang, matahari dan bulan menghormati (sujud) kepada beliau. Ayahnya melarang menceritakan hal itu kepada saudara-saudaranya, karena khawatir ada kecemburuan diantara mereka. Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan, yaitu setelah beliau berkuasa di Mesir, saudara-saudara beliau dan orang tuanya datang berkunjung dan menghormatinya (QS. Yusuf: 2-3)
Bermimpi sepert itu bukan hanya dialami orang-orang yang sholeh saja, orang kafirpun dapat bermimpi seperti itu, misalnya Fir’aun , dia bermimpi pada zaman Nabi Yusuf AS, melihat ujuh ekor sapi yang kurus menelan tujuh ekor sapi yang gemuk. Demikian juga yang dialami oleh kedua kawan Nabi Yusuf sewaktu dipenjara, yang seorang bermimpi memeras anggur, dan yang seorang lagi bermimpi membawa roti diatas kepalanya , lalu ditemukan oleh burung. Semua itu diterangkan Nabi Yusuf AS , bahkan beliau berkata :
“Aku dapat menerangkan takwilnya (tafsir) sebelum makanan itu sampai kepada kamu, karena yang demkian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan Tuhan kepadaku,” (QS. Yusuf: 36-37)
Kemudian syarat apa? Dan rumus apa? Untuk mengetahui takwil mimpi itu, tidak ada penjelasan dalam agama tenang syarat dan rumus mimipi tersebut. Yang bisa mengetahui takwil/tafsir mimipi itu hanya para Nabi dengan seizing Allah SWT, seperti Nabi Yusuf AS.
Sekarang banyak kitab dan buku-buku yang menerangkan lambang-lambang dan isyarat-isyarat dari sebuah mimpi dengan bermacam-macam arti atapun maknanya, akan tetapi semua itu tidak dapat dijadikan pegangan, mengingat banyak yang tidak cocok dengan kenyataan.
Adapun orang yang menakwilkan/mentafsirkan mimpi hukumnya musyrik, baik secara langsung maupun dalam membuat buku-buku tafsir mimpi. Begitu pula dengan mentafsirkan mitos-mitos yang turun temurun di masyarakat kita.
Tidak ada yang tahu akan kenyataan takwil atau tafsir mimpi seseorang secara pasti sebelum betul-betul terjadi. Hal ini adalah perkara ghaib, sedangkan perkara ghaib tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT, dan orang-orang yang diberi tahu berdasarkan wahyu, sedangkan  kita hanya bisa mengetahui arti mimpi itu jika suatu peristiwa telah terjadi seperti yang diimpikan.
Apabila kita bermimpi baik, dianjurkan untuk tetap memiliki sangka yang baik kepada Allah, dengan disertai harapan yang baik dan tidak usah menakwilkan mimpi tersebut, karena kita bukan ahlinya, dan hal itu boleh diceritakan kepada yang orang lain. Demikian juga bila kita bermimpi yang buruk, berprasangka yang baik kepada Allah tidak boleh lepas, jangan terpengaruh dengan mimpi buruk itu, karena hal tersebut gangguan dari Syetan, hendaknya tidak menceritakannya kepada siapapun, yakinkan pada diri kita bahwa hal itu tidak akan ada pengaruhnya, dan bukan pertanda suatu keburukan, oleh karena itu diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari gangguan syetan.
Tidak ada orang yang bermimpi kecuali disaat tidur. Pada waktu tidur jiwa seseorang itu telah diterima Allah SWT, lalu ketika bangun jiwa itu dikembalikan lagi, sebagaimana firman-Nya :
“Allah-lah yang menerima jiwa-jiwa ketika matinya, dan jiwa yang tidak mati dalam tidurnya, lalu Ia menahan jiwa yang Ia hukumkan mati atasnya, dan Ia melepaskan jiwa-jiwa yang lain, hinga satu masa yang telah ditentukan , sesunguhnya dalam kejadian demikian itu ada beberapa tanda bagi orang-orang yang mau berpikir,” (QS. Azumar: 42)
Read More..

Makna Lagu Ilir-Ilir

aceh 300x225 Makna Lagu Ilir Ilir

Lir-ilir, lir-ilir

tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…


Siapa tak kenal lagu Ilir-Ilir? Walaupun ini lagu Jawa, tapi hampir semua orang tahu lagu ini. Tapi tahukah Anda, apa makna lagu Ilir-Ilir?. Lir ilir bukan sekadar tembang dolanan biasa, tapi tembang di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Tembang karya Kanjeng Sunan Kalijogo ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Maya Hasan, seorang pemain Harpa dari Indonesia pernah mengatakan bahwa dia ingin mengerti filosofi dari lagu ini. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“. Apakah makna mendalam dari tembang ini? Mari kita coba mengupas maknanya  :
Lir-ilir, lir-ilir
Tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan? Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa? Ruh? kesadaran? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak.. (kita fikirkan ini), gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan. 

Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.
Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya. 

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi.
Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam. 

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.
Walaupun dengan bersusah payah, walaupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan. 

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir.
Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“. 

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.
Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak. 

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.
Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita. 

Yo surako surak hiyo.
Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25).

Sumber
Read More..

12 Golongan Yang Didoakan Malaikat

malaik 300x225 12 Golongan Yang Didoakan Malaikat

“Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya.  Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya,” (QS Al Anbiyaa’ 26-28).

Mungkin kita pernah berandai, bagaimana agar malaikat itu mendoakan kita? Bayangkan saja makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya dan tak memiliki nafsu itu doanya pasti dikabulkan oleh Allah SWT. Berikut ini ialah sekelompok orang didoakan oleh malaikat karena berbuat suatu kebaikan :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (HR Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’" (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib)

4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan ‘aamin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
“Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
“Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'” (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106)

7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
“Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no.9140)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’ (HR Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.
“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 1442 dan Shahih Muslim 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah” (HR Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (HR Imam Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib, Al Musnad 754)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily). 

Read More..

7 Keistimewaan Bumi Palestina

alaqsa 7 Keistimewaan Bumi Palestina

Palestina memiliki kedudukan istimewa dilubuk hati setiap muslim. Palestina adalah tanah suci yang diberkahi sebagaimana disebutkan dalam Al Quran:

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra:1)

Di sana terdapat Masjid Al Aqsa yang bagi umat Islam memiliki beberapa keistimewaan:

1. Kiblat pertama umat Islam

2. Masjid kedua yang dibangun di muka bumi seperti dinyatakan di dalam hadits
Abu Dzar al-Ghifari ra. Berkata: “ Aku bertanya kepada Rasulullah: “Wahai, Rasulullah, masjid apakah yang pertamakali dibangun di muka bumi?” beliau menjawab: “ Masjid al-Haram”. Lalu aku bertanya lagi: “ Kemudian masjid apa lagi?” beliau menjawab: “Masjid al-Aqsha”. Aku bertanya lagi: “ Berapa jarak pembangunan antara keduanya?” beliau menjawab: “empat puluh tahun.Kemudian dimana saja kamu mendapati waktu shalat telah tiba, maka shalatlah (kamu disitu)”. [haits shahih diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasai dan Qazuwaini]

3. Satu dari tiga masjid yang memiliki kedudukan penting dalam Islam.
Rasulullah saw. Juga bersabda: ” Shalat di masjid al-haram lebih utama seratus ribu kali lipat dibandingkan shalat di masjid lainnya, dan shalat dimasjidku (Masjid Nabawi) lebih utama seribu kali lipat (dibanding shalat di masjid lainnya) dan shalat di masjid baitul maqdis (masjid al-Aqsha) lebih utama limaratus kali lipat (dibanding shalat di masjid lainnya)”. [diriwayatkan oleh at Thahawi]

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. Bersabda: ”Tidak dianjurkan untuk melakukan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: masjid al-Haram, masjidku ini (masjid Nabawi) dan masjid al-Aqsha”.[diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]

4. Palestina adalah terminal akhir dari perjalanan Isra Nabi Muhammad saw. Dan sekaligus titik awal Mi’rajnya kelangit untuk menerima perintah shalat lima waktu, seperti telah disebutkan dalam surat al-Isra ayat 1 diatas.

5. Negeri para Nabi, dimana banyak nabi-nabi dilahirkan, hidup dan dimakamkan disana, seperti Nabi Ibrahim, Ishak, Sulaiman, Musa, Daud dll.

6. Palestina juga adalah Negeri tempat dikumpulkan dan dihidupkan kembali semua umat manusia, dari sejak Nabi Adam hingga generasi akhir zaman. Tempat domisilinya Darul Islam. Orang yang teguh untuk tetap tinggal disana karena Allah, bagai seorang mujahid yang berjihad di jalan-Nya.

Abu Umamah al-Bahili ra. Berkata: bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda: “Senantiasa akan ada sekelompok orang dari ummatku yang memperjuangkan kebenaran dan memerangi musuh mereka. Mereka tidak peduli dengan orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka hingga ketentuan Allah swt. Menyambangi mereka dan mereka akan tetap seperti itu”. Mereka bertanya: ”Ya Rasulullah, dimanakah mereka itu?” beliau menjawab: ”mereka berada di Baitul Maqdis di Sekitar Baitul Maqdis”.

7. Pusat berkumpulnya generasi kedua dari kelompok yang ditolong Allah sampai hari Kiamat. 

[Sumber: al Haqaaiq wa ats Tsawabit fil Qadliyyah al Filisthiniyyah/Karya : Dr. Muhsin Muhammad Shaleh/Penerjemah : Heri Efendi, Lc/Sumber: beritapalestina]

Read More..

Palestina Dan Nubuwat Akhir Zaman

hamas12 Palestina Dan Nubuwat Akhir Zaman

Jika disebut kota suci ketiga setelah Mekah dan Madinah, maka dalam beberapa detik akan terlintas dalam benak kita bahwa yang dimaksud tiada lain kecuali Al-Quds. Benar, Al-Quds, atau Al-Aqsha, Palestina, adalah kata yang tidak asing bagi mayoritas kaum muslimin. Hati kaum muslimin di Indonesia pun lebih dekat dengan Al-Aqsha dari pada Istiqlal atau bangunan lainnya di negeri ini.

Al-Aqsha, atau Baitul Maqdis disebutkan dalam banyak riwayat hadits dan atsar. Tentang keagungan dan keutamaannya, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa Masjidil Aqsha adalah masjid tertua kedua di muka bumi. Masjidil Aqsha juga merupakan kiblat pertama kaum muslimin. Baitul Maqdis sendiri merupakan salah satu dari tiga kota suci yang dianjurkan untuk diziarahi dengan niatan ibadah. [1] Tentang keutamaan shalat di Baitul Maqdis, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa ia setara dengan 500 kali dibanding dengan masjid lainnya. Palestina sendiri termasuk negeri yang didoakan agar mendapat berkah. Dan terakhir, Rasulullah pernah berkunjung ke Palestina dan shalat di Masjidil Aqsa pada malam Isra’.

Secara geografis, Palestina memiliki kedudukan yang sangat strategis di mata dunia Internasional. Tanah bukit Moria, sebuah dataran tinggi yang di atasnya berdiri Masjidil Aqsha dan Masjid Qubbatush Shahra, yang luasnya kurang dari 4 kali lapangan sepakbola, kini telah diperebutkan oleh lebih dari 3 milyar umat manusia.

Di samping faktor geografis dan keutamaan lainnya yang dinubuwatkan, Palestina juga menyimpan banyak misteri di akhir zaman. Negeri ini telah dinubuwatkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebagai negeri paling unik. Realita yang kita saksikan sampai hari ini tentang Palestina merupakan gambaran kebenaran apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Pergolakan politik dan pertikaian serta konflik antara umat Islam dengan Yahudi sebenarnya telah diberitakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Berikut ini merupakan penjelasan dari nabi tentang Palestina di akhir zaman.

1. Palestina Akan Menjadi Bumi Ribath Sampai Akhir Zaman
Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan agama Allah, orang-orang yang memusuhi mereka maupun tidak mau mendukung mereka sama sekali tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” Malik bin Yakhamir menyahut: Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa mereka berada di Syam.” Mu’awiyah berkata, “Lihatlah, ini Malik menyebutkan bahwa ia telah mendengar Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa kelompok tersebut berada di Syam.”[2]

Tentang negeri Syam yang disebutkan dalam hadits di atas, riwayat di bawah ini memperjelas bahwa negeri Syam yang dimaksud adalah Palestina. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berada di atas kebenaran, mengalahkan musuh-musuhnya, dan orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka kecuali sedikit musibah semata. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” “Wahai Rasulullah, di manakah kelompok tersebut?” tanya para sahabat. “Mereka berada di Baitul Maqdis dan pelataran Baitul Maqdis.”

Maka, berbagai pertanyaan yang terus menggelayuti benak setiap muslim; mengapa konflik di Palestina dan pertikaian antara umat Islam dan Yahudi tak kunjung usai, barangkali bila dilacak dari sudut pandang takdir bisa dijawab dengan hadits ini. Sungguh, negeri Palestina tidak akan pernah sepi dari peperangan antara kaum muslimin dengan musuh-musuhnya. Dan, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat di atas, musibah apapun yang ditimpakan oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin di Palestina, hal itu tidak memberikan madharat kecuali sedikit musibah. Maknanya, bahwa sehebat apapun gempuran musuh yang ditimpakan terhadap umat Islam di Palestina, maka hal itu tidak akan pernah membuat komunitas di negeri itu lenyap. Ada semacam jaminan bahwa umat Islam di negeri itu akan tetap eksis. Dan jihad di negeri itu akan terus berlanjut sampai akhir zaman; sampai kaum muslimin berhasil mengalahkan Dajjal.

Riwayat di atas juga boleh jadi menjadi isyarat tentang mustahilnya bagi umat Islam untuk berhijrah meninggalkan Palestina secara total; sedahsyat apapun gempuran musuh atas mereka. Janji Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bahwa serangan musuh hanya akan menimpakan sedikit musibah atas mereka menjadibisyarah (kabar gembira) bahwa negeri ini tidak akan pernah mampu ditaklukkan oleh musuh. Pasti, akan selalu ada segelintir umat yang akan bertahan untuk mempertahankan negeri ini.

2. Palestina Akan Menjadi Bumi Hijrah di Akhir Zaman
Nubuwat lain yang juga menakjubkan adalah bahwa negeri Paletina ini akan menjadi bumi hijrah akhir zaman. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan terjadi hijrah sesudah hijrah, maka sebaik-baik penduduk bumi adalah orang-orang yang mendiami tempat hijrah Ibrahim, lalu yang tersisa di muka bumi hanyalah orang-orang yang jahat. Bumi menolak mereka, Allah menganggap mereka kotor, dan api akan menggiring mereka bersama para kera dan babi.” [3]

Jika riwayat tersebut dikorelasikan dengan hadits lain yang menceritakan perjalanan Imam Mahdi dan kaum muslimin dalam memerangi musuh-musuhnya, maka boleh jadi nubuwat di atas terjadi di masa Al-Mahdi. Hal itu Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah memberitahukan kepada Isa dengan firman-Nya, “Tiada seorang pun yang mampu melawannya, karena itu bawalah hamba-hamba-Ku (yang baik-baik) ke gunung Thur.” Lalu Allah membangkitkan (mengutus) Ya’juj dan Ma’juj, mereka segera datang dari seluruh tempat yang tinggi. [4]

Gunung Thur, sebagaimana yang termuat dalam riwayat di atas merupakan bagian dari negeri Syam, meskipun ia tidak berada tepat di dalam Palestina. Tetapi wilayah tersebut masih masuk dalam bagian negeri hijrahnya nabi Ibrahim as. (Syam). Wallahu A’lam.

3. Palestina Akan Menjadi Tempat Tegaknya Khilafah di Akhir Zaman
Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Hawalah Al-Azdi. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya, “Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di bumi Al-Maqdis (Baitul Maqdis, Palestina), maka itu pertanda telah dekatnya berbagai goncangan, kegundah-gulanaan, dan peristiwa-peristiwa besar. Bagi umat manusia, kiamat lebih dekat kepada mereka daripada dekatnya telapak tanganku kepada kepalamu ini.”

Jika merujuk pada riwayat yang menyebutkan penaklukkan kaum muslimin di akhir zaman, maka kemungkinan tegaknya khilafah di bumi Baitul Maqdis itu terjadi di zaman Al-Mahdi. Sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, bahwa di masa Al-Mahdi kelak Dajjal akan dikalahkan, dan tempat terbunuhnya Dajjal sendiri berada di Bab Ludd-Palestina. Setelah tewasnya Dajjal di tangan nabi Isa as, maka kaum muslimin terus memburu Yahudi dimanapun mereka bersembunyi. Setiap benda, baik pohon, batu maupun lainnya akan berbicara dan memberitahukan keberadaan Yahudi yang bersembunyi. Hanya satu jenis pohon yang akan diam dan melindungi Yahudi, yaitu pohon Gharqad, sesungguhnya ia termasuk salah satu dari pohon Yahudi.

4. Palestina Akan Menjadi Tempat Bertahannya Iman di Akhir Zaman
Ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang hal ini :
Dari Salamah bin Nufail Al Kindi ia berkata,’ Saya duduk di sisi Nabi shalallahu alaihi wasallam, maka seorang laki-laki berkata,” Ya Rasulullah, manusia telah meninggalkan kuda perang dan menaruh senjata. Mereka mengatakan,” Tidak ada jihad lagi, perang telah selesai.” Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menghadapkan wajahnya dan besabda,” Mereka berdusta!!! Sekarang, sekarang, perang telah tiba. Akan senantiasa ada dari umatku, umat yang berperang di atas kebenaran. Allah menyesatkan hati-hati sebagian manusia dan memberi rizki umat tersebut dari hamba-hambanya yang tersesat (ghanimah). Begitulah sampai tegaknya kiamat, dan sampai datangya janji Allah. Kebaikan senantiasa tertambat dalam ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat. Dan Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa aku akan diwafatkan. Aku tidak akan kekal di dunia ini, dan kalian akan saling menyusulku, sebagian kalian memerangi sebagian yang lain. Dan kampung halaman kaum beriman adalah Syam.”

Dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya saya melihat seakan-akan tonggak Al-Kitab telah tercabut dari bawah bantalku. Maka aku mengikuti kepergiannya dengan pandangan mataku. Tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang terang-benderang mengarah ke Syam. Ketahuilah, sesungguhnya iman pada saat terjadi beragam fitnah berada di Syam.”

5. Palestina Menjadi Salah Satu Tempat Berlindung Dari Dajjal
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda:
“Aku peringatkan kalian tentang Dajjal. Aku peringatkan kalian tentang Dajjal. Aku peringatkan kalian tentang Dajjal. ……. Ia menetap di bumi selama empat puluh hari. Ia bisa mencapai setiap jengkal muka bumi kecuali empat masjid; masjidil Haram, masjidi Madinah, masjid Ath-Thur dan masjidil Aqsha. Ia tidak akan samar-samar lagi bagi kalian, karena Rabb kalian tidaklah buta mata sebelah (sementara Dajjal buta sebelah matanya).”[5]


[1]. Rasulullah saw bersabda: “Tidak dianjurkan untuk melakukan perjalanan jauh ke masjid-masjid tertentu dengan niatan ibadah kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa. HR. Bukhari: Kitabut Tathawwu’ no. 1115 dan Muslim: Kitabul Hajj no. 2475.
[2]. HR. Bukhari: Kitabul Manaqib no. 3369 dan Muslim: Kitabul Imarah no. 3548.
[3]. HR. Abu Daud
[4]. Shahih Muslim, Bab Dzikr Ad-Dajjal 18: 68-69
[5]. HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2934.

(Pz/Islampos/MajalahFajr)

Read More..

Kebenaran Al-Qur’an Tentang Bumi Palestina

palestina4 Kebenaran Al Qur’an Tentang Bumi Palestina

Mengenai permasalahan yang kini berada di bumi Palestina, merupakan suatu perkara yang telah ada di dalam kitab suci Al-Quran. Allah telah mengatur sedemikian rupa bahwa turunan dari Bani Israil akan melakukan kerusakan untuk kedua kalinya di bumi tersebut. Sehingga, apa yang sedang terjadi sekarang ini merupakan bukti nyata kebenaran dari firman Allah SWT itu.

Allah SWT berfirman, “Dan Kami tetapkan Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar,” (QS. al-Isra’: 4).

Sungguh hal tersebut telah terjadi. Israel yang merupakan keturunan dari Bani Israil telah berada pada tingkat kesombongan yang besar. Mereka bangga dengan apa yang mereka lakukan. Ditambah lagi dengan dukungan dari negara-negara besar seperti Amerika dan Inggris yang terus membuat mereka merasa di atas. Namun, Allah telah menjanjikan kepada mereka bahwa akan adanya hamba-hamba Allah yang perkasa yang dapat mengalahkan mereka.

Allah SWT berfirman, “Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana,” (QS. al-Isra’: 5).

Oleh karena itu, saudara-saudaraku janganlah kalian panik, karena Allah pasti akan mendatangkan orang-orang yang akan menolong kalian dikemudian hari. Sehingga, melalui mereka, kehidupan kalian akan kembali merasakan kedamaian. Tapi, Allah telah menjanjikan juga kepada Bani Israil, bahwa mereka akan mengalami kemenangan kembali.

Allah SWT berfirman, “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang besar,” (QS. al-Isra’: 6).

Namun, hal itu janganlah membuat kalian merasa bahwa Allah itu tidak adil. Karena sesungguhnya dibalik itu semua Allah telah menyiapkan sesuatu bagi mereka. Allah akan membangkitkan semangat kita untuk kembali berjihad. Sehingga, Masjid Al-Aqsa dapat kembali ke tangan umat Islam.

Allah SWT berfirman, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa) sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai,” (QS. al-Isra’: 7).

Itulah kebenaran dari apa yang telah Allah sampaikan kepada kita. Untuk itu janganlah kalian ragu akan kebenaran firman Allah SWT. Karena, segala apa yang telah dan yang akan terjadi telah Allah tulis di Lauf Mahfudz. Kalaupun, Bani Israil itu kembali melakukan kejahatan, Allah pasti akan tempatkan mereka ke tempat yang serendah-rendahnya. Yakni neraka Jahannam, yang merupakan penjara bagi orang-orang kafir.
Allah SWT berfirman, “Mudah-mudahan Tuhan kamu melimpahkan rahmat kepada kamu; tetapi jika kamu kembali (melakukan kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazabmu). Dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang kafir,” (QS. al-Isra’: 8).
 
Read More..

Asal Usul Hajar Aswad

hajar aswad close up 490x326 Asal Usul Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah batu hitam yang terletak di sudut sebelah Tenggara Ka’bah, yaitu sudut dari mana Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan jenis batu ‘ruby’ yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril. Hajar Aswad terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus dikecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan milyaran manusia sejak Nabi Adam, yaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji maupun untuk tujuan Umrah.

Hadist Sahih riwayat Imam Bathaqie dan Ibnu ‘Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda: “Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.

Hadis tersebut mengatakan bahwa disunatkan membaca do’a ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan thawaf atau pada setiap putaran, sebagai mana, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.  “Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka’bah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar”.

ASAL – USUL HAJAR ASWAD
Ketika Nabi Ibrahim a.s bersama anaknya membangun Ka’bah banyak kekurangan yang dialaminya. Pada mulanya Ka’bah itu tidak ada bumbung dan pintu masuk. Nabi Ibrahim a.s bersama Nabi Ismail mau membangunnya dengan meninggikan bangunannya dan mengangkut batu dari berbagai gunung. setelah bangunan Ka’bah itu hampir selesai, ternyata Nabi Ibrahim masih merasa kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di Kaabah.

Nabi Ibrahim berkata pada Nabi Ismail, “Pergilah engkau mencari sebuah batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia.”

Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik. Nabi Ismail dengan segera membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali. Kemudian Nabi Ibrahim a.s bertanya, “Dari mana kamu dapat batu ini?”

Nabi Ismail berkata, “Batu ini kuterima dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).”

Nabi Ibrahim mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail a.s. Sehingga sekarang Hajar Aswad itu dicium oleh orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa saja yang bertawaf di Ka’bah disunnahkan mencium Hajar Aswad.

Hadis Siti Aisyah RA mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda: “Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat.”
 
Umar bin Khatabpun juga pernah mengatakan “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu.”
 
Read More..

Apabila Bilal Kumandangkan Azan, Semua Sahabat Menangis

padang pasir Apabila Bilal Kumandangkan Azan, Semua Sahabat Menangis

Bilal bin Rabah atau dikenali juga sebagai Bilal Habashi dilahirkan di Kota Makkah sekitar tahun 43 sebelum Hijrah. Bilal r.a dibesarkan di Kota Mekah sebagai seorang hamba anak-anak yatim Bani Abdul Dar yang berada di bawah jagaan Umaiyyah bin Khalaf. Ibu beliau bernama Hamama yang berketurunan Abasyiah manakala ayah beliau bernama Rabah yang berketurunan Arab. Beliau merupakan seorang hamba kepada Amit bin Khalaf.

Setelah Rasulullah SAW dibangkitkan menjadi Nabi dengan membawa risalah Islam, Bilal merupakan kalangan orang-orang yang paling awal memeluk Islam. Ia memeluk Islam di Syam dengan bantuan seorang sahabatnya yaitu al-Fadhil. Ketika ia memeluk Islam, hanya terdapat beberapa orang saja yang memeluk Islam di atas muka bumi ini yaitu Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar As-Siddiq, Ali bin Abi Talib, Ammar bin Yasir serta ibunya Sumaiyyah, Suhaib Ar-Rumi dan Al-Miqdad bin Al-Aswad.

Bilal merupakan salah seorang Muslim yang paling banyak menerima penyiksaan, kekejaman dari golongan musyrikin. Sebagian besar dari kalangan mereka yang memeluk Islam pada masa tersebut mempunyai keluarga tempat mereka berlindung dari kekejaman golongan musyrikin. Faktor itulah yang menyebabkan mereka menjadi sasaran golongan musyrikin Quraisy untuk melepaskan geram mereka terhadap Islam.

Pada suatu hari terjadi peristiwa Umaiyyah bin Khalaf bersama-sama sekumpulan golongan musyrikin menanggalkan pakaian Bilal, mereka memakaikannya dengan baju besi kemudian mereka menjemurnya di bawah panas terik cahaya matahari dalam keadaan pasir yang panas membakar. Mereka juga memukulnya dengan menggunakan cemeti sambil memerintahkan Bilal supaya mencaci Nabi Muhammad SAW. Namun, bagaimana hebat sekalipun penyiksaan yang mereka timpakan kepada Bilal namun Bilal tetap dengan pendiriannya di mana ia tidak menyebut apa-apa kecuali perkataan: “Allah yang Maha Esa! Allah yang Maha Esa!”

Umaiyyah bin Khalaf merasa putus asa menyiksa Bilal, Umaiyyah mengikat lehernya dengan menggunakan tali yang besar kemudian menyerahkan kepada orang-orang yang bodoh dan kanak-kanak. Ia kemudian meminta supaya mereka mengyeretnya ke seluruh kawasan Kota Mekah dan mereka membawanya ke kawasan-kawasan yang berbatu sambil berlari.

Selepas peristiwa tersebut Abu Bakar r.a memerdekakan Bilal dengan cara membelinya dari Umaiyyah bin Khalaf dengan harga 9 tahil emas. Umaiyyah bin Khalaf sengaja menjualnya dengan harga yang mahal supaya Abu Bakar tidak mau membelinya sedangkan di dalam hati dia berkata: “Sekiranya Abu Bakar tidak mau membelinya dengan harga tersebut, aku tetap akan menjualnya walaupun dengan harga 1 tahil emas.”
Sebaliknya Abu Bakar juga berkata di dalam hatinya, “Sekiranya dia tidak mau menjual dengan harga tersebut, aku tetap akan membelinya walaupun dengan harga 100 tahil emas.”

Bilal gembira dengan kemerdekaan tersebut karena ia dapat memulai era baru suasana kehidupan yang penuh dengan kebebasan yang tidak pernah dijanjikan kepadanya. Kemudian ia berhijrah ke Madinah bersama-sama dengan rombongan umat Islam yang berhijrah ke sana.

Bilal menjadi tukang adzan Rasulullah SAW sepanjang hidupnya. Pernah terjadi ketika semasa Rasulullah SAW wafat, Bilal mengumandangkan adzan tetapi setiap kali sampai pada, “Aku bersaksi bahawa Nabi Muhammad adalah Rasulullah,” Bilal menangis tersedu-sedu kemudian meminta Abu Bakar r.a supaya menyuruhnya untuk tidak lagi beradzan karena ia tidak dapat lagi menanggung kesedihan selepas meninggalnya Rasulullah SAW.

Setelah itu Bilal pergi bersama-sama delegasi dakwah pertama umat Islam dan menetap di Darya (sebuah tempat dekat dengan Damsyik). Hinggal akhirnya Umar bin Al-Khattab datang ke Damsyik dan meminta Bilal supaya mengumandangkan azan sekali lagi. Karena Umar terlalu mengasihi dan menghormati beliau. Umar pernah berkata: “Abu Bakar adalah tuanmu dan beliau telah memerdekakanmu,” ujarnya kepada Bilal.
Ketika  Bilal mengumandangkan azdan, Umar dan para sahabat yang pernah mendengar suara azan tersebut pada zaman Rasulullah SAW terus menangis tersedu-sedu kerana mereka teringat akan Rasul. Mereka semua pun menangis.

Bilal bin Rabah meninggal dunia setelah mengalami sakit. Pada waktu itu, Bilal sering sekali menyebut: “Besok kita akan bertemu dengan kekasih Muhammad dan sahabat baginda.” [santi/islampos/alhabib/Dikutip dari: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah SAW/ karya: Khalid Muhammad Khalid/Diponegoro Bandung]

Read More..
 
bikintau