bikintau Headline Animator

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 

Orang-orang Pilihan yang Tersembunyi


Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allâh Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya orang-orang pilihan, tersembunyi, taat, rambut mereka acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya.” 

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasûlullâh, contohkan pada kami salah satu dari mereka?” 

Beliau menjawab: “Itulah Uwais Al-Qaraniy.” 

Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah Uwais Al-Qaraniy?“ 

Beliau menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya luas, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya kemerah-merahan, selalu menundukkan dagunya hingga ke dada, pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah atas nama Allâh pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan kepada Uwais, “Berhenti, dan berikanlah syafaat!” Maka Allâh memberikan syafaat sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.” “Wahai Umar, wahai `Ali!” Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allâh akan mengampuni kalian berdua.”

Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, Umar Radhiallahu anhu berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: ”Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama Uwais?” 

Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu Uwais yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama Uwais, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan sesuatu yang paling hina untuk kami ajukan kehadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah di antara kami. Demi Allâh tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila, dan lebih kelaparan darinya”

Maka, menangislah Umar Radhiallahu anhu, lalu beliau berkata: Hal itu ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasûlullâh SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafaatnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” 

Maka Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: “Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” 

“Ya,” jawabnya. 

Beliau bertanya: ” Dimanakah tempatnya” 

Ia menjawab: “Di tanah Arafah.” 

Kemudian berangkatlah Umar dan Ali Radhiallahu anhu dengan cepat menungganggi kendaraannya menuju Arafah. Tiba-tiba mereka mendapatkannya dalam keadaan shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya disekitarnya. Keduanya mengikat keledai mereka, lalu mendatanginya, dan berkata: “Assalamualaika warrahmatullah wabarokatuh”

Uwais mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka. 

Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?”

Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum”

Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” 

Ia menjawab: “Abdullâh (hamba Allah)”

Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allâh, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” 

Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?” 

Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama Uwais Alqaraniy. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya”

Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua segera menghampirinya dan mengecupnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah Uwais Alqaraniy, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allâh mengampunimu”

Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengkhususkan istighfarku untuk diriku atau siapapun dari anak cucu Adam, tetapi doaku untuk mereka yang ada di daratan dan lautan, baik laki-laki maupun wanita yang beriman dan Islam. Wahai kalian berdua, Allâh telah membongkar dan memberitahukan keadaaanku pada kalian berdua, lalu siapakah kalian berdua?” 

Berkatalah `Ali Radhiallahu anhu: “Ini adalah Umar amir al-mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abu Thalib”

Lalu Uwais bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allâh bagimu wahai amir al-mu’minin, dan kepadamu pula wahai anak Abu Thalib, semoga Allâh membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan”

Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allâh membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu”

Lalu Umar ra berkata kepadanya : ”Tetaplah di tempatmu hingga aku memasuki kota Mekah dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku, ini adalah tempat pertemuanku denganmu”

Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai amir al-mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Apakah kau mengetahui apa yang akan aku perbuat dengan bekal dan baju darimu? Bukankah kau melihat dua lembar pakaianku yang terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya ! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai amir al-mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap hati yang memiliki rasa takut dan tunduk, maka takutlah semoga Allâh merahmatimu”

Ketika Umar mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” 

Kemudian Uwais berkata: “Wahai amir al-mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain”

Maka Umar berjalan ke arah Mekkah, sedangkan Uwais menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan menghadapkan dirinya beribadah hingga menemui Allâh.

Read More..

Bukan Jin Ifrit yang Memindahkan Singgasana Ratu Saba’


Jika kita sering diperdengarkan kisah tentang dua puluh lima nabi sejak kecil, tentu kita tidak akan asing dengan kisah tentang kerajaan Nabi Sulaiman. Kisah tentang kerajaan Nabi Sulaiman menjadi cerita yang menarik dan terus lestari dari generasi ke generasi. Al-Qur’an pun menceritakan dengan cukup detail, namun kita tidak sepenuhnya mampu memahami inti pesan yang Allah SAWT sampaikan lewat ayat-ayat itu. Tidak sedikit dari kita hanya menceritakan kembali apa yang pernah kita dengar dari orang tua atau kakek kita, tanpa pernah meneliti kembali bagian-bagian penting dari kisah itu, sehingga bisa melepaskan diri dari kesalahan yang mungkin diwariskan secara turun-temurun. 

Bagian yang cukup penting yang perlu kita teliti kembali adalah mengenai siapa yang berhasil memindahkan singgasana Ratu Saba’ ke dalam istana Nabi Sulaiman. Sebagian besar dari kita mungkin mendapatkan cerita bahwa yang memindahkan singgasana itu adalah jin Ifrit, karena dia dikenal sebagai jin yang cerdik dan kuat secara fisik. Akan tetapi, mari kita teliti kembali bagian-bagian dari ayat al-Qur’an yang menceritakan hal ini 

 (٣٩)قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي
(٤٠)أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ 
“Ifrit dari golongan jin berkata, ‘Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.’ Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab berkata, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, ‘Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya, Mahamulia,’”(QS. An-Naml: 39-40).

Ayat di atas jelas menyatakan, bahwa yang membawa singgasana itu ke dalam istana Nabi Sulaiman bukan jin Ifrit, karena dia kalah cepat dan kalah cerdik dari seorang hamba Allah yang memiliki ilmu dari kitab. Hamba Allah itu mampu membawa singgasana itu ke hadapan Nabi Sulaiman sebelum dia mengedipkan mata. Sedangkan Ifrit hanya mampu membawanya ke hadapan Nabi Sulaiman sebelum dia bangkit dari tempat duduknya.

Peristiwa ini memberikan pelajaran yang tetap mengukuhkan keunggulan manusia di atas makhluk Allah yang lain, bahkan jin sekalipun. Hamba Allah yang berhasil membawa singgasana itu digambarkan dengan kata alladzii ‘indahuu ‘ilmun minal kitaab (yang mempunyai ilmu dari kitab).

Silahkan mengamati kata-kata itu dengan baik dan cobalah cerna, apa pesan yang ingin Allah SWT sampaikan kepada kita lewat peristiwa itu. Hamba Allah itu mampu menempuh jarak antara negeri Saba’ yang berada di sekitar wilayah Yaman dan kerajaan Nabi Sulaiman yang berada di wilayah Yarussalem (sekitar 2.022 km) dengan membawa singgasana besar dengan berat ratusan kilogram, hanya dalam waktu kurang dari satu kediapan mata.

Apakah ini mukjizat ataukah karomah atau mungkin sebagai bagian dari kemajuan teknologi transportasi di zaman Nabi Sulaiman? Bila peristiwa itu disebut sebagai mukjizat atau karomah, redaksi kata dalam ayat itu sangat jelas menyatakan bahwa hamba Allah itu memiliki ilmu yang digali dari kitab (alladzii indahuu ilmun minal kitaab). Ilmu yang membuat dia mampu melakukannya. Sehingga Nabi Sulaiman sangat bangga dengan apa yang dilakukan hamba tersebut dan berucap, ”Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya), dan siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”

Apakah kemajuan teknologi saat ini sudah ada yang mampu menggabungkan kekuatan dan kecepatan seperti itu dalam satu jenis alat transportasi? Allah SWT memberikan stimulasi untuk kita mau mempelajari dan meneliti hanya dalam beberapa ayat al-Qur’an. Menyingkap suatu disiplin ilmu yang belum terungkap agar bisa memberi lebih banyak manfaat bagi kehidupan.

Pada setiap ayat tersebut pula, Allah SWT selalu menyertakan pemberitahuan bahwa tidak ada sesuatu pun di jagat raya ini yang berada di luar kendali-Nya; dan kepada Allah SWT pula kita akan kembali dan mempertanggungjawabkan apa yang pernah kita perbuat selama hidup.

 أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ 
 “Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagi kalian pelindung dan penolong selain Allah SWT,”(QS. Al-Baqarah: 107).

Sumber : Kerajaan Al-Qur’an/Hudzaifah Ismail/Penerbit: Penerbit Almahira/2012
Read More..

Sulaiman, Sembelih Kuda Dapatkan Angin sebagai Kendaraannya


Tentu anda mengenal Nabi Sulaiman AS bukan? Ya, beliau adalah satu-satunya nabi yang memiliki kekayaan sangat banyak. Bahkan, beliau bukan hanya menguasai manusia sebagai raja, akan tetapi jin dan hewan pun berada di pawah perintahnya. Sungguh kedudukan yang sangat luar biasa, yang tidak dapat tersaingi oleh orang terkaya di dunia saat ini sekali pun. Namun, bukan hanya kekayaan dan kedudukan tertinggi Nabi Sulaiman yang menjadi kebanggan paling utama. Yakni, beliau memiliki tingkat keimanan yang begitu tinggi. Rasa cinta dan sayang kepada Allah SWT sebagai Tuhannya sangatlah besar. Bahkan, ia rela menyembelih kuda-kudanya yang begitu kuat dan gagah, hanya karena takut kepada atas murka Allah kepadanya. 

Sebagaimana Allah berfirman di dalam kitab suci Al-Quran, “Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Rabbnya. (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di wkatu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore , maka ia berkata kepada, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu, ia potong kaki dan leher (kuda-kuda itu),” (QS. Shad: 30-33). 

Allah SWT menyebutkan bahwa Dia menganugerahkan kepada Dawud (putra bernama) Sulaiman AS. Lalu Allah menyanjung Sulaiman dan (menyebutkan) bahwa dia banyak kembali kepada Allah, lalu Allah menyebutkan perkaranya tentang kuda. 

Berikut ini kami bawakan kisahnya untuk Anda. Nabi Sulaiman menyukai kida untuk digunakan berjihad di jalan Allah dan beliau memiliki kuda-kuda yang kuat, cepat dan memiliki sayap yang jumlahnya lebih dari 20 ribu. 

Ketika beliau memeriksa dan mengatur kuda-kuda tersebut, beliau ketinggalan shalat Ashar karena lupa bukan disengaja. Saat beliau menyadari bahwa beliau ketinggalan melakukan shalat karena kuda-kuda tersebut beliau pun bersumpah, “Tidak, demi Allah, janganlah kalian (kuda-kudaku) melalaikanku dari menyembah Tuhanku.” Lalu beliau memerintahkan agar kuda-kuda itu disembelih. Maka, beliau menebas leher-leher dan urat-urat nadi kuda-kuda tersebut dengan pedang. Ketika Allah mengetahui hamba-Nya, Sulaiman, menyembelih kuda-kuda tersebut karena-Nya, karena takut dari siksa-Nya karena mencintai dan mengagungkan-Nya, disebabkan beliau sibuk dengan kuda-kuda tersebut sehingga habis waktu shalat maka Allah SWT memberi kepada beliau dengan sesuatu yang lebih baik dari kuda-kuda tersebut. Yakni, angin yang bisa berhembus dengan perintahnya, sehingga akan menjadi subur daerah yang dilewatinya. 

Perjalannya sama dengan perjalanan sebulan dan kembalinya sama dengan perjalanan sebulan. Dan tentu ini lebih cepat dan lebih baik daripada kuda. Benarlah Rasulullah SAW, manakala beliau bersabda, “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah SWT, kecuali Allah SWT akan memberimu (sesuatu) yang lebih baik daripadanya,” (Diriwatkan oleh Ahmad dan Al-Baihaqi, dan ia adalah hadis shahih). 

Sumber : Kisah-kisah Nyata/Karya: Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi/Penerbit: Darul Haq, Jakarta
Read More..

Kisah Tabayyun Burung Hud-Hud dan Nabi Sulaiman



Dalam Al-Quran, di surah An-Naml ayat ke-22, dikisahkan bahwa burung Hud-hud menyaksikan sebuah kaum penyembah matahari di bumi Yaman yang dahulu disebut negeri Saba’ hal itu kemudian disampaikan kepada Nabi Sulaiman AS: “Aku datang kepadamu ( Sulaiman) dengan membawa kabar yang pasti dari negeri Saba’…” 

Burung Hud-hud tidak mengatakan: “Aku dengar begini…” atau berkata: “Kata orang begini..” 

Namun dia membawa berita yang langsung disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri. 

Nabi Sulaiman tidak serta merta meyakini kabar tersebut, justru beliau berkata : “Kita akan melihat, apakah kamu termasuk dari golongan yang terpercaya atau golongan pendusta” 

Beginilah seharusnya cara seorang muslim dalam menginformasikan atau mengkritisi sebuah informasi. Tidak menelan mentah-mentah semua kabar yang berserakakan di media, tengah-tengah publik, ataupun lainnya, namun diuji dan dilihat kebenarannya terlebih dahulu. 

”…maka selidikilah kebenaran (kabarnya) agar kamu tidak menimpakan suatu kaum dengan perkara yang tidak mereka inginkan karena kecerobohanmu..”( QS. Al-Hujurat: 6). 

“Cukuplah suatu dosa bagi seseorang yang gemar menceritakan semua kabar yang didengarnya,” Muhammad SAW. 

Read More..

3 Syarat dari Semut untuk Nabi Sulaiman



Pada suatu hari, ketika Nabi Sulaiman a.s. tengah berbaring, ada seekor semut berjalan di dadanya. Kemudian ia ammbil semut itu dan dilemparnya jauh. Dengan marah, semut itu berkata, “Wahai Nabi Allah, mengapa engkau lemparkan aku dengan begitu keras? Apakah kamu lupa bahwa pada hari kiamat nanti kamu akan berdiri di hadapan Pencipta segala kerajaan, yaitu Tuhannya langit dan bumi, yang Maha Adil, yang mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya?” 

mendengar kata-kata semut itu, Nabi Sulaiman a.s. pingsan. Setelah siuman ia memandangi semut tersebut dan berkata, “Maafkanlah sikap zalimku tadi terhadapmu.” 

Si semut menjawab, “Aku akan memaafkan perbuatanmu tadi degan tiga syarat.” 

Mendengar perkataan tersebut, Nabi Sulaiman berkata, “Sebutkanlah ketiga persyaratanmu tersebut!” 

“Syarat yang pertama adalah jangan kamu tolak orang yang meminta kepadamu. Sesungguhnya orang yang meminta kepadamu adalah orang yang sedang meminta karunia Allah, maka jangan sampai kamu cegah karunia Allah kepaada makhluk-Nya,” kata semut. 

“Kemudian yang kedua adalah jangan tertawa berlebih-lebihan sehingga kamu terlena dengan dunia dan menyaangka bahwa kamu telah menjalani semua tugasmu dengan baik di dunia ini. Sehingga hatimu menjadi keras, sedangkan kamu telah dimuliakan oleh Allah dengan diberikan kerajaan ini,” lanjut semut. 

“Lalu apa syaratmu yang terakhir?” Tanya Nabi Sulaiman a.s. 

“Sedangkan syaratku yang ketiga adalah jangan sampai kedudukanmu menghalangimu untuk menolong orang yang meminta pertolonganmu,” jawab semut. 

 Mendengar pernyataan semut itu, Nabi Sulaiman a.s. berkata, “Insya Allah semua persyaratanmu itu akan aku jalani.” 

“Jika begitu aku telah memaafkanmu,” kata semut. 

Sumber : 40 Kisah Pengantar Anak Tidur/ Najwa Husein Abdul Aziz/Gema Insani
Read More..

IMAM ALI DALAM KACA MATA AL-QURAN

Hasil gambar untuk imam ali

Tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali AS. dan memperkenalkannya sebagai peribadi Islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa ia men-dapat perhatian yang tinggi di sisi Allah SWT. Banyak sekali buku-buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Qur’an yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Iman Ali AS.[1]
Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam manapun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori berikut ini:
1. Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.
2. Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali AS. dan keluarganya.
3. Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah SAW.
4. Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali AS. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.

Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat tersebut.

a. Kategori Ayat Pertama
Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali AS. adalah sebagai berikut:
1. Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan . Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra‘d [13]:7)
Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abas. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, nabi SAW. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalunya memegang pundak Ali AS. sembari bersabda: ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”[2]
2. Allah SWT. berfirman:
“.. dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.” (QS. Al-Hâqqah [69]:12)
Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali AS. berkata: “Rasulullah SAW. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Rasulullah SAW.”[3]
3. Allah SWT. berfirman:
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:274)
Pada saat itu, Imam Ali AS. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah SAW. bertanya kepa-danya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali AS. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian ayat tersebut turun.[4]
4. Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]:7)
Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir bin Abdillah. Jâbir bin Abdillah berkata: “Ketika kami bersama nabi SAW., tiba-tiba Ali AS. datang. Seketika itu itu Rasulullah SAW. Ber-sabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguh-nya Ali AS. dan Syi‘ah (para pengikut)nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali AS. datang, para sahabat Nabi SAW. Menga-takan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”[5]
5. Allah SWT. berfirman:.
“... maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai penge-tahuan [Ahl Adz-Dzikr] jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]:43)
Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali AS. berkata: “Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.”[6]
6. Allah SWT. berfirman:
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepada-mu dari Tuhanmu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Sesungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)
Ayat ini turun kepada Nabi SAW. ketika sampai di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi SAW. diperintahkan oleh Allah untuk mengangkat Ali AS. sebagai khalifah sepening-galnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali AS. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi SAW. mengumandangkan sabdanya yang masyhur: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali AS. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang men-cintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinakanlah orang yang menghinakannya.”
Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali AS.: “Selamat, hai putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”[7]
7. Allah SWT. berfirman:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)
Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah nabi SAW. mengangkat Ali AS. sebagai khalifah sepeninggalnya.[8] Setelah ayat tersebut turun, Nabi SAW. bersabda: “Allah Maha Besar lantaran penyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah Ali bin Abi Thalib AS.”[9]
8. Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat ketika sedang rukuk.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 55)
Seorang sahabat nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku menger-jakan salat Dzuhur bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang membe-rikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul SAW., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali AS. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian ia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi SAW. Lalunya SAW. Berdoa: ‘Ya Allah, sesung-guhnya saudaraku, Mûsâ AS. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkanlah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar mereka dapat memahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Hârûn. Kokohkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’ (QS. Thaha [20]:25–32)
“Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kokohkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin.’ (QS. Al-Qashash [28]:35) Ya Allah, aku ini adalah Muhammad nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kokohkanlah punggungku dengannya.’”
Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelumnya sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah: ‘Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan ....’”[10]
Ayat ini menempatkan wilâyah ‘kepemimpinan’ universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah) hanya untuk Allah SWT., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali AS. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka mengagungkan kemuliaan Imam Ali AS. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk kalimat afirmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr) ‘innamâ’ (yang berarti hanya). Dengan demikian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah tersebut untuk Imam Ali AS.
Seorang penyair tersohor, Hassân bin Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata:
Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin
Sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.[11]

b. Kategori Ayat Kedua
Al-Qur’an Al-Karim dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait as. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin Ali AS. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut:
1. Allah SWT. berfirman:
“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apapun atas dakwahku itu selain mencintai Al-Qurbâ. Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebaji-kan itu. Sesungguhnya Allah Maha Penghampun lagi Maha Mensyukuri.’” (QS. Asy-Syûrâ [42]:23)
Mayoritas ahli tafsir dan perawi hadis berpendapat bahwa maksud dari “Al-Qurbâ” yang telah diwajibkan oleh Allah SWT. kepada segenap hamba-Nya untuk mencintai mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain as., dan maksud dari “iqtirâf Al-hasanah” (me-ngerjakan kebaikan) dalam ayat ini ialah mencintai dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Berikut ini beberapa riwayat yang menegaskan hal ini.
Dalam sebuah riwayat, Ibn Abas berkata: “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya: ‘Ya
Rasulallah, siapakah sanak kerabatmu yang kami telah diwajibkan untuk mencintai mereka?’
Rasulullah SAW. Menjawab: ‘Mereka adalah Ali, Fathimah, dan kedua putranya.’”[12]
Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Seorang Arab Baduwi pernah datang menjumpai Nabi SAW. seraya berkata: ‘Jelaskan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah SAW. Menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah hamba dan rasul-Nya.’ Arab Baduwi itu segera menimpali: ‘Apakah engkau meminta upah dariku?’ Rasul menjawab: “Tidak, selain mencintai Al-Qurbâ’. Orang Arab Baduwi itu bertanya lagi: ‘Keluargaku ataukah keluargamu?’ Nabi SAW. Menjawab: ‘Tentu keluargaku.’ Kemudian orang Arab Baduwi itu berkata lagi: “Jika begitu, aku membaiatmu bahwa barang siapa yang tidak mencintaimu dan tidak juga mencintai keluargamu, maka Allah akan mengutuknya.’ Nabi segera menimpali: ‘Amîn.’”[13]
2. Allah SWT. berfirman:
“Barang siapa yang menghujatmu tentang hal itu setelah jelas datang kepadanya pengetahuan, maka katakanlah, ‘Mari kami panggil putra-putra kami dan putra-putra kamu, putri-putri kami dan putri-putri kamu, dan diri kami dan diri kamu, kemudain kita ber-mubâhalah agar kita jadikan kutukan Allah atas orang-orang yang dusta.’” (QS. Ali ‘Imrân [3]:61)
Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi SAW. Ayat tersebut menggunakan kata abnâ’ (anak-anak) yang maksudnya adalah Hasan dan Husain as.; kedua cucu Nabi yang dirahmati dan kedua imam pemberi hidayah. Dan maksud kata an-nisâ’ (wanita) yaitu Sayidah Az-Zahrâ’ as., penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Adapun pemuka dan junjungan Ahlul Bait, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., diungkapkan dengan kata anfusanâ (diri-diri kami).[14]
3. Allah SWT. berfirman:
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut ....” (QS. Ad-Dahr [76])
Mayoritas ahli tafsir dan para perawi hadis berpendapat bahwa surah ini diturunkan untuk Ahlul Bait nabi SAW.[15]
4. Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala noda dari kalian, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:33)
Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang penuh berkah ini turun berkenaan dengan lima orang penghuni Kisâ’.[16] Mereka adalah Rasulullah SAW.; junjungan para makhluk, Ali AS.; jiwa dan dirinya, Sayyidah Fathimah; buah hatinya yang suci dan penghulu para wanita di dunia dan akhirat yang Allah rida dengan keridaannya dan murka dengan kemurkaannya, dan Hasan dan Husain as.; kedua permata hatinya dan penghulu para pemuda ahli surga. Tak seorang pun dari keluarga Rasulullah SAW. yang lain dan tidak pula para pemuka sahabatnya yang ikut serta dalam keuta-maan ini. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadis berikut ini:
Pertama, Ummul Mukminin Ummu Salamah berkata: “Ayat ini turun di rumahku. Pada saat itu ada Fathimah, Hasan, Husain, dan Ali as. di rumahku. Kemudian Rasulullah saw. menutupi mereka dengan Kisâ’ (kain panjang dan lebar), seraya berdoa: “Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku. Hilangkanlah dari mereka segala noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’” Ia mengulang-ulang doa tersebut dan Ummu Salamah mendengar dan melihatnya. Lantas dia berkata: “Apakah aku masuk bersama Anda, ya Rasulullah?” Lalu dia mengangkat Kisâ’ tersebut untuk masuk bersama mereka. Tetapinya menarik Kisâ’ itu sembari bersabda: “Sesungguhnya eng-kau berada dalam kebaikan.”[17]
Kedua, dalam sebuah riwayat Ibn Abbâs berkata: “Aku menyak-sikan Rasulullah SAW. setiap hari mendatangi pintu rumah Ali bin Abi Thalib as. setiap kali masuk waktu salat selama tujuh bulan berturut-turut. Ia mendatangi pintu rumah itu sebanyak lima kali dalam sehari sembari berkata: ‘Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersih-kan kamu sesuci-sucinya. Mari kita melakukan salat, semoga Allah merahmati kalian!”[18]
Ketiga, dalam sebuah riwayat Abu Barazah berkata: “Aku mengerjakan salat bersama Rasulullah SAW. selama tujuh bulan. Setiap kali keluar dari rumah, ia mendatangi pintu rumah Fathimah as. seraya bersabda, ‘Salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya.’”[19]
Sesungguhnya tindakan-tindakan Rasulullah SAW. ini merupakan sebuah pemberitahuan kepada umat dan seruan kepada mereka untuk mengikuti Ahlul Bait as. Lantaran Ahlul Bait as. adalah pembimbing bagi mereka untuk meniti jalan kemajuan di kehidupan duniawi maupun ukhrawi.

c. Kategori Ayat Ketiga
Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali as. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan ter-kemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut:
1. Allah SWT. berfirman:
“Dan di atas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-A‘raf [7]:46)
Ibn Abbâs berkata: “Al-A‘râf adalah sebuah tempat yang tinggi dari Shirât. Di atas tempat itu terdapat Abbâs, Hamzah, Ali bin Abi Thalib as., dan Ja‘far pemilik dua sayap. Mereka mengenal para pecinta mereka dengan wajah mereka bersinar dan juga mengenal para musuh mereka dengan wajah mereka yang hitam pekat.”[20]
2.      Allah SWT. berfirman:
“Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa telah yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]:23)
Ali AS. pernah ditanya tentang ayat ini, sementara ia sedang berada di atas mimbar. Dia berkata: “Ya Allah, aku mohon ampunanmu. Ayat ini turun berkenaan denganku, pamanku Hamzah, dan pamanku ‘Ubaidah bin Hârist. Adapun ‘Ubaidah, ia telah gugur sebagai syahid di medan Badar dan Hamzah juga telah gugur di medan perang Uhud. Sementara aku masih menunggu orang paling celaka yang akan mengucurkan darahku dari sini sampai ke sini—sembari ia menunjuk jenggot dan kepalanya.”[21]

d. Kategori Ayat Keempat
Berikut ini kami paparkan beberapa ayat yang turun memuji Imam Ali AS. dan mengecam para musuhnya yang senantiasa berusaha untuk meng-hapus segala keutamaannya.
1. Allah SWT. berfirman:
“Apakah kamu menyamakan pekerjaan memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram dengan (amal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. At-Taubah [9]:19)
Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali AS., Abbâs, dan Thalhah bin Syaibah ketika mereka saling menunjukkan keutamaan masing-masing. Thalhah berkata: “Aku adalah pengurus Ka‘bah. Kunci dan urusan tabirnya berada di tanganku.” Abbâs berkata: “Aku adalah pemberi minum orang-orang yang beribadah haji.” Ali AS. berkata: “Aku tidak tahu kalian ini berkata apa? Sungguh aku telah mengerjakan salat menghadap ke arah Kiblat selama enam bulan sebelum ada seorang pun yang mengerjakan salat dan akulah orang yang selalu berjihad.” Kemudian turunlah ayat tersebut.[22]
2. Allah SWT. berfirman:
“Maka apakah orang yang telah beriman seperti orang yang fasik? Tentu tidaklah sama.” (QS. As-Sajdah [32]:18)
Ayat ini turun memuji Imam Ali AS. dan mengecam Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu‘îth. Walîd berbangga diri di hadapan Ali AS. seraya berkata: “Lisanku lebih fasih daripada lisanmu, gigiku lebih tajan daripada gigimu, dan aku juga lebih pandai menulis.” Ali AS. berkata: “Diamlah. Sesungguhnya engkau adalah orang fasik”. Kemudian turunlah ayat tersebut.[23]

[1]Târîkh Bagdad, Jil. 6/221; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.
[2]Tafsir At-Thabarî, Jil. 13/72; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6,/157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Musad-ak Al-Hâkim, Jil. 3/129.
[3]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, Jil. 4/600; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/267.
[4]Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/25; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 64.
[5]Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 8/589; Tafsir At-Thabarî, Jil. 30/17; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 96.
[6]Tafsir At-Thabarî, Jil. 8/145.
[7]Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.
[8]Târîkh Baghdad, Jil. 8/19; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 6/19.
[9]Dalâ’il Ash-Shidq, Jil. 2/152.
[10]Tafsir Ar-Râzî, Jil. 12/26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 6/186.
[11]Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 3/106; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/692; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 102; Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/17; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 7/305.
[12]Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 7/103; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al-Mantsûr, Jil. 7/348.
[13]Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 3/102.
[14]Tafsir Ar-Râzî, Jil. 2/699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, Jil. 1/49; Tafsir Rûh Al-Bayân, Jil. 1/457; Tafsir Al-Jalâlain, Jil. 1/35; Shahîh Muslim, Jil. 2/47; Shahîh At-Turmuzî, Jil. 2/166; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 7/63; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, Jil. 2/201; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’, Jil. 3/193.
[15]Tafsir Ar-Râzî, Jil. 10/243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, Jil. 6/ 546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, Jil. 1/93; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/227; Imtâ‘ Al-Asmâ‘, hal. 502.
[16]Tafsir Ar-Râzî, Jil. 6/783; Shahîh Muslim, Jil. 2/331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, Jil. 2/264; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/188; Tafsir Ibn Jarîr, Jil. 22/5; Musnad Ahmad bin Hanbal, Jil. 4/ 107; Sunan Al-Baihaqî, Jil. 2/150; Musykil Al-Atsar, Jil. 1/334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.
[17]Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 2/416; Usud Al-Ghâbah, Jil. 5/521.
[18]Ad-Durr Al-Mantsâr, Jil. 5/199.
[19]Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 24.
[20]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 101.
[21]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al-Abshar, hal. 80.
[22]Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 10/68; Tafsir Ar-Râzî, Jil. 16/11; Ad-Durrul Mantsur, Jil. 4/146; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.
[23]Tafsir Ath-Thabarî, Jil. 21/68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, Jil. 13/321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/206.

Sumber
Read More..

Kiamat, yang Ditanya Tidak Lebih Tahu daripada Si Penanya

Ilustrasi-Kiamat
MANUSIA sering bertanya-tanya mengenai waktu kiamat. Mereka melontarkan pertanyaan kepada Rasulullah saw, dan datanglah jawaban dari Zat yang menurunkan Al-Qur’an bahwa sesungguhnya kiamat itu adalah hal yang gaib, dan waktu terjadinya hari kiamat adalah salah satu ilmu khas Allah. Firman Allah :
Manusia bertanya kepadamu mengenai hari kebangkitan. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kebangkitan itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari kebangkitan itu sudah dekat waktunya.
(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan : Kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut akan (hari kebangkitan).” 
Pengetahuan semacam ini tak diketahui oleh malaikat dan nabi. Karena itu, Rasulullah saw menjawab saat Jibril bertanya kepadanya mengenai hari kiamat, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari si penanya.”
Jadi, upaya membahas masalah ini dan menduga kiamat akan terjadi pada tahun tertentu secara pasti berarti membuat dusta atas nama Allah tanpa pengetahuan.
Orang yang melibatkan diri dalam masalah ini menyalahi manhaj (jalan) qurani dan nabawi yang membimbing manusia untuk meninggalkan pembahasan masalah kiamat, serta mengajak manusia untuk mempersiapkan diri menyongsong kiamat dengan iman dan amal saleh.
Orang-orang yang meneliti masalah kaiamat menduga bahwa mereka dapat mengetahui apa yang tidak diketahui Rasulullah SAW dan jibril. Penulis mengatakan kepada mereka : seyoganya kalian meneladani Rasulullah SAW, sahabat dan para ulama sepanjang sejarah. Jikalau dalam pengatahuan kapan terjadinya kiamat terdapat kemaslahatan dan kebaikan bagi manusia, Allah tentu akan menginformasikannya kepada manusia. Tetapi, Allah tidak melakukannya, dan di situlah letak kemaslahatan bagi manusia.
Seyogyanya juga generasi mendatang mengambil pelajaran dari genarasi sebelumnya. Sebagian generasi masa lampau menyibukkan diri dalam masalah kiamat. Mereka menentukan waktu tertentu terhadap kiamat atau sebagian tanda-tanda yang menunjukkan waktu kiamat telah dekat. Lalu saat waktu tersebut tiba, tidak terjadi sesuatu apapun, baik kiamat atau tanda kiamat.
Di antara mereka ini adalah ath-Thabari, semoga Allah mengampuninya. Beliau menyimpulkan dari beberapa nas bahwa dunia akan berakhir setelah lima ratus tahun dari masa Nabi. 

Sumber: “Ensiklopedia” Kiamat, Karangan: Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, Penerbit Serambi
Read More..

Jika Banyak Orang Mati Mendadak

Two feet of a dead body
DI zaman ini, banyak kita temui beberapa kasus orang mati mendadak. Pagi harinya kita berbincang-bincang hangat dengan dia, sore harinya tiba-tiba datang berita kematiannya dengan tiba-tiba. Atau seseorang yang sedang tersenyum di depan kita, tiba-tiba memagang dada agak kesakitan kemudian tergeletak dan tidak bangun lagi untuk selamanya. Atau kasus pemain bola yang sangat lincah, berlari dengan kencang , tiba-tiba terduduk diam kemudian ia tidak akan lari lagi untuk selamanya.
Penyebab kematian mendadak dan cepat juga banyak ditemui di zaman ini. Wabah mematikan, penyakit serangan jantung, stroke dan lain-lain. Ini merupakan salah satu tanda akhir zaman.
Hadits mengenai hal ini
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salla, bersabda,
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ …أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفَجْأَةِ
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah…munculnya kematian mendadak.” [1]
Bahkan kematian mendadak juga menimpa hewan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِيْ، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِيْنَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُوْنُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُوْنَ فَيَأْتُوْنَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِيْنَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اِثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.
“Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3) wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [2]
Apakah tanda husnul khatimah atau su’ul khatimah?
Kematian mendadak bukan tanda keduanya, karena kematian mendadak bisa menimpa seorang muslim ataupun kafir. Akan tetapi kematian mendadak bisa jadi bentuk nikmat dari Allah kepada seorang mukmin.
Dari ‘Aisyah bahwasanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
موت الفجأة راحة للمؤمن وأخذة أسف للكافر
“Kematian mendadak adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang kafir”[3]
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
جاء في بعض الأحاديث ما يدل على أن موت الفجأة يكثر في آخر الزمان، وهو أخذة غضب للفاجر، وراحة للمؤمن، فقد يصاب المؤمن بموت الفجأة بسكتة أو غيرها ويكون راحة له ونعمة من الله عليه؛ لكونه قد استعد واستقام وتهيأ للموت واجتهد في الخير فيؤخذ فجأة وهو على حال طيبة على خير وعمل صالح، فيستريح من كرب الموت وتعب الموت ومشاق الموت، وقد يكون بالنسبة إلى الفاجر قد يقع هذا بالنسبة إلى الفجار وتكون تلك الأخذة أخذة غضب عليهم، فوجؤوا على شر حال.
“Pada sebagian hadits terdapat dalil mengenai kematian medadak yang akan banyak pada akhir zaman. Yaitu penyesalan bagi orang fajir dan istirahat bagi orang mukmin. Terkadang seorang mukmin tertimpa dengan kematian mendadak seketika, ini adalah bentuk istirahat dan kenikmatan dari Allah. Akan tetapi tentu saja ia sudah menyiapkan (amal shalih), istiqamah dan bersiap-siap menghadapi kematian dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan, kemudian ia meninggal dalam keadaan baik dan melakukan amal shalih. Maka ia istirahat dari beban dunia, kelelahan dan penderitaan sakratul maut. Terkadang juga menimpa orang fajir, maka ini menjadi penyesalan baginya, meninggal mendadak dalam keadaan buruk.”
————————————-
[1] HR. Thabrani; Dhiya’ Al-Maqdisi; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami, no: 5775
[2] HR. Al-Bukhari no. 3176
[3] HR. Ahmad dan Ibnu Syaibah dalam Mushannafnya

Read More..

Diangkatnya Ilmu, dan Tinggallah Orang-orang Bodoh

baca-quran1-268x300
Selama ini pernahkah kita merenung sudah berapa ulama yang benar-benar memperjuangkan Islam dan ilmu agama dengan sungguh-sungguh telah tiada? Dan sudah berapa banyak yang mampu menjadi pengganti mereka pada saat ini? Bagaimana ilmu agama dan kebenaran dapat terus hidup jika para ulama benar-benar sudah tidak ada, dan karya besar mereka sudah dilupakan?
Kita sudah tahu bahwasannya ulama adalah pewaris para nabi, namun bagaimana ilmu yang telah diajarkan oleh para nabi tersebut dapat diamalkan, sedangkan umat saat ini sudah jauh dari tuntunan ulama. Inilah salah satu fenomena yang pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW bahwa menjelang hari kiamat ilmu akan lenyap dari muka bumi.
Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah, Rasulullah SAW bersabda:
“Menjelang kiamat akan ada beberapa masa, di mana ilmu dicabut, lalu diturunkanlah kebodohan, dan terjadi banyak kerusuhan. Adapun kerusuhan itu adalah pembunuhan.”
Ini semua menunjukkan, bahwa suatu saat nanti (mungkin sekarang) ilmu akan dicabut dari umat manusia di akhir zaman, sehingga Al-Quran pun akan lenyap dari mushaf-mushaf dan dari dalam hati manusia. Akhirnya manusia tidak memiliki ilmu, yang ada hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang sudah lenjut usia. Mereka mengeluh dan menyatakan bahwa mereka hanya bisa mengucapkan “La ilaha illallah.” Padahal mereka mengucapkannya hanya sekedar ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun demikian ucapan itu berguna bagi mereka, sekalipun mereka tidak pernah melakukan amal saleh dan tidak memiliki ilmu yang bermanfaat, selain ucapan saja.
Kalau ada pendapat yang mengatakan, bahwa ucapan mereka itu dapat menyelamatkan diri mereka dari neraka, boleh jadi maksudnya adalah, bahwa kalimat tauhid itu mencegah mereka masuk neraka sama sekali. Karena kewajiban mereka hanya sekedar mengucapkan kata-kata itu, sebab mereka tidak lagi dibebani melakukan amlan-amalan yang seruannya tak pernah sampai kepada mereka.
Adapun yang dimaksud disini adalah, bahwa ilmu akan dicabut pada akhir zaman dan akan terjadi banyak kebodohan. Selain itu sabda Rasul dalam hadits di atas adalah pemberitahuan tentang bakal diturunkannya kebodohan. Yakni bahwa orang-orang yang hidup di zaman itu akan diilhami kebodohan, yang berarti ketidak pedulian Allah SWT terhadap mereka.
Kemudian mereka akan tetap dalam keadaan seperti itu, bahkan semakin bodoh dan sesat, sampai dengan berakhirnya kehidupan dunia dan kehancuran alam semesta. Sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan terjadi kiamat pada seorang pun yang mengucapkan ‘Allah, Allah,’ dan tidak akan terjadi kiamat kecuali atas manusia-manusia yang jahat.” 

Read More..

Hancur Leburnya Bumi dan Gunung-gunung di Akhir Zaman

Ilustrasi

Allah SWT memberi tahu kita bahwa bumi kita yang tenang ini dan gunung-gunung yang menancap dan kokoh di atasnya, pada hari kiamat, ketika sangkakala ditiup, menjadi hancur lebur sekaligus.
“Apabila sangkakala ditiup satu kali, dan bumi serta gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan sekaligus (hingga hancur), maka pada hari itu terjadilah kiamat,” (QS. az-Zumar: 67).
“Janganlah begitu. Ingatlah, ketika bumi benar-benar digempur hingga hancur lebur,” (QS. al-Fajr: 21).
"Ketika itu, gunung-gunung yang kokoh dan keras ini berubah menjadi pasir yang halus, sebagaimana dikatakan Allah SWT, “Pada hari bumi dan gunung-gunung berguncang keras, dan gunung-gunung menjadi gundukan pasir yang berterbangan,” (QS. al-Muzzammil: 14).
"Pada bagian lain, Allah menggambarkan bahwa gunung-gunung itu menjadi seperti wol, yaitu bulu domba. “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu domba,” (QS. al-Ma’arij: 9).

Kemudian Allah SWT memusnahkan gunung-gunung ini dan meratakan bumi hingga tidak ada tempat yang menonjol dan tidak ada pula yang legok. Al-Qur’an menggambarkan pemusnahan gunung-gunung itu dengan ungkapan, pada satu tempat, menerbangkannya dan, pada tempat lain, menghancur leburkannya.
“Dan apabila gunung-gunung diterbangkan,” (QS. at-Takwir: 3).
“Dan gunung-gunung diterbangkan, maka gunung-gunung itu menjadi fatamorgana,” (QS. an-Naba: 20).
“Dan apabila gunung-gunung telah dihancurleburkan,” (QS. al-Mursalat: 10).
Kemudian Allah menjelaskan keadaan bumi setelah gunung-gunung diterbangkan dan dihancurleburkan. “Dan pada hari Kami terbangkan gunung-gunung dan kamu lihat bumi itu jelas,” (QS. al-Kahf: 47). Yakni, jelas tanpa tonjolan dan lekukan, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah yang lain, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung. Katakanlah, ‘Tuhanku akan benar-benar menghancurleburkannya, lalu dibiarkan-Nya menjadi tanah kosong Kamu tidak melihat ada lekukan di sana,” (QS. Thaha: 105-107)

Sumber: Ensiklopedia Kiamat/ Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar/Penerbit: Serambi
Read More..

Terpaksa Bayar Zakat jadi Salah Satu Ciri Kiamat Sudah Dekat

zakat
Pada dasarnya seharusnya seseorang bersikap sangat mudah dan ikhlas membayar zakat harta, emas, benda, dan zakat lainnya. Karena zakat memberikan banyak manfaat, berkah dan menjadi pembersih harta dan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dan pada akhir zaman nanti yang menjadi salah satu tanda bahwa hari akhir sudah semakin dekat adalah orang – orang akan merasa sangat sulit sekali dan terpaksa dalam membayar zakat. Sifat kikir dan pelit semakin menguasai diri setiap orang. Orang – orang kaya akan menganggap membayar zakat sebagai hutang yang dengan sangat berat hati harus dilunasi jumlahnya. Orang – orang tersebut tidak mendapat pahala dan ridho dari Allah SWT., karena mereka melakukan zakat dengan hati yang terpaksa bukan dengan hati dan niat yang tulus dan ikhlas karena Allah SWT.
Sumber : Kiamat Sudah Dekat? Penulis : Dr. Muhammad al-‘Areifi, Maret 2011, Qisthi Press, Jakarta.
Read More..

Suami Takut Istri dan Durhaka Kepada Orang Tua jadi Tanda Semakin Dekatnya Kiamat

tangisan ibu
Seringkali kita melihat seorang suami yang lebih sayang terhadap istrinya dibanding kepada ibunya. Dan para suami lebih merasa takut terhadap istrinya dan durhaka kepada ibunya. Hal seperti ini sudah menjadi fenomena yang tak asing lagi terlihat dan menjamur di berbagai kalangan. Ini adalah salah satu tanda-tanda akan datangnya Hari Kiamat.
Bukti nyata dari pernyataan diatas adalah seringnya seorang ibu yang tinggal sendiri di rumah menikmati masa tuanya tanpa ditemani oleh anak-anaknya. Saat orang tua sudah tak mampu melakukan semuanya sendiri, anak-anak nya tega membiarkan sang ibu bersusah payah. Padahal dari lubuk hati yang paling dalam pasti orang tua menanti dan mengharapkan untuk dijenguk, dikunjungi, dan bisa menghabiskan masa tuanya bersama anak-anak dan cucunya yang tercinta. Namun anak itu kerapkali mengabaikan dan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Seharusnya sebagai seorang anak, kita harus bisa membahagiakan orang tua selagi masih ada. Merawatnya, menjaganya, memperhatikannya, memberinya kasih dan sayang dengan ikhlas dan penuh kesabaran sebagaimana orang tua kita dulu memperlakukan kita saat masih kecil.
Diriwayatkan Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila harta rampasan perang (al-Fai’) hanya dibagikan di kalangan orang-orang kaya, seorang suami takut kepada istrinya dan durhaka terhadap ibunya, dan seseorang lebih dekat kapada temannya daripada ayahnya sendiri.”
Sungguh! Penyesalan selalu datang diakhir. Oleh karena itu selalu berbuat baiklah terhadap siapapun dan kapanpun dimanapun, karena tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi 5 menit kedepan kecuali hanya Allah SWT.
Sumber : Kiamat Sudah Dekat?/Dr. Muhammad al-‘Areifi/Qisthi Press/Jakarta/Maret 2011.

Read More..
 
bikintau